Bhataramedia.com – Madagaskar merupakan rumah bagi keanekaragaman hayati yang luar biasa, tetapi  didalam beberapa dekade terakhir, hutan pulau dan keanekaragaman hayati di Madagaskar sedang terancam. Deforestasi yang sangat cepat mempengaruhi ratusan spesies, termasuk bunglon panther, spesies dengan variasi warna yang spektakuler.

Studi baru oleh Michel Milinkovitch, profesor genetika, evolusi, dan biofisika di University of Geneva (UNIGE), yang bekerja sama dengan rekan-rekannya di Madagaskar, mengungkapkan bahwa spesies reptil karismatik yang hanya ditemukan di Madagaskar tersebut, sebenarnya terdiri dari sebelas spesies yang berbeda. Hasil penelitian mereka muncul di dalam edisi terbaru jurnal Molecular Ecology. Mereka juga membahas kebutuhan mendesak untuk melindungi habitat di Madagaskar.

Bekerja sama dengan profesor Achille Raselimanana dari Universitas Antananarivo, para peneliti dari Department of Genetics and Evolution UNiGE, yang dipimpin oleh Michel Milinkovitch, berusaha untuk menemukan kunci genetik di belakang warna yang luar biasa dari bunglon panther. Analisis yang mereka lakukan pada suatu daerah di Madagaskar, mengungkapkan adanya 11 spesies bunglon panther, bukannya spesies tunggal.

Setetes Darah Banyak Berbicara

Dilansir Université de Genève (25/05/2015), para ilmuwan membutuhkan dua kali ekspedisi dari Timur hingga ke Barat untuk mengumpulkan setetes darah dari 324 individu bunglon panther dan mendokumentasikannya melalui foto berwarna. DNA (mitokondria dan inti sel) dari masing-masing spesimen diurutkan dan dianalisa di laboratorium, sesuai dengan hipotesis bahwa warna dominan bunglon ini kemungkin berkaitan dengan zona geografis di mana spesies ini ditemukan. Hal yang paling penting adalah bahan genetik menunjukkan struktur genetik yang kuat di antara garis keturunan yang dibatasi secara geografis. Hal ini mengungkapkan perkawinan yang sangat rendah di antara populasi.

Kunci Mengubah Genetik menjadi Warna

Analisis matematis dari 324 foto menunjukkan bahwa perbedaan pola warna yang hampir tidak kelihatan, dapat memprediksi individu bunglon panther berdasarkan garis keturunan genetik yang sesuai. Hal ini mengkonfirmasi bahwa banyak dari populasi pada lokasi geografis tertentu, kemungkinan perlu dipertimbangkan sebagai spesies terpisah. Para ilmuwan kemudian menyederhanakan analisis keragaman warna menjadi kunci klasifikasi, yang memungkinkan untuk menghubungkan bunglon yang sesuai dengan spesiesnya, hanya dengan menggunakan mata telanjang. Kasus spesiasi tersembunyi ini menegaskan karakteristik utama dari Madagaskar, yaitu merupakan salah satu tempat dengan kehidupan yang paling beragam di Bumi, ‘hotspot’ keanekaragaman hayati.

Madagaskar, Unik tetapi Sangat Rapuh

Setiap spesies bunglon baru memerlukan manajemen individu, mengingat bahwa masing-masing bunglon merupakan bagian yang berbeda dari keanekaragaman hayati secara keseluruhan. Kunci klasifikasi visual yang dibuat oleh para peneliti dapat membantu ahli biologi lokal dan manajer perdagangan untuk menghindari ‘over-harvesting’ oleh penduduk setempat. Tugas pengelolaan keanekaragaman hayati yang harus dilakukan sangat berat, karena telah terjadi kerusakan habitat hutan yang luas untuk praktek pertanian serta untuk kayu bakar dan produksi arang oleh populasi dengan standar hidup yang sangat rendah. Kegiatan manusia di Madagaskar mengancam kelangsungan hidup 400 spesies reptil, 300 spesies amfibi, 300 spesies burung, 15.000 spesies tanaman dan spesies-spesies invertebrata yang tak terhitung jumlahnya. Selain itu, sekitar 80 sampai 90% dari semua spesies hidup yang ditemukan di Madagaskar adalah endemik, artinya mereka tidak ada di tempat lainnnya di bumi.

Mengingat sifat karismatik dari bunglon panther, Milinkovitch berharap, di samping pemahaman yang lebih baik mengenai dasar genetik yang mempengaruhi variasi warna bunglon, studi kolaboratif dengan rekan-rekannya di Madagaskar akan membantu rekannya, Profesor Raselimanana, untuk melanjutkan usaha yang sulit, yaitu meningkatkan kesadaran untuk keanekaragaman hayati Madagaskar yang mengejutkan, tetapi sangat rapuh.

Referensi :

Djordje Grbic, Suzanne V. Saenko, Toky M. Randriamoria, et al. Phylogeography and Support Vector Machine Classification of Colour Variation in Panther Chameleons. Molecular Ecology, May 2015 DOI: 10.1111/mec.13241.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here