Bhataramedia.com – Menurut penelitian baru, rekayasa (geoengineering) iklim kemungkinan merupakan satu-satunya cara untuk menyelamatkan terumbu karang dari pemutihan massal (bleaching).

Terumbu karang dianggap sebagai salah satu ekosistem paling rentan terhadap perubahan iklim di masa depan karena meningkatnya suhu permukaan laut dan pengasaman laut, yang disebabkan oleh tingkat karbon dioksida yang lebih tinggi di atmosfer.

Pemutihan karang massal, yang dapat menyebabkan kematian karang, diprediksi terjadi jauh lebih sering selama beberapa dekade mendatang, karena stres yang diberikan oleh suhu air laut lebih tinggi.

Para ilmuwan percaya bahwa perluasan dan tingkat keparahan pemutihan dan degradasi karang akan terjadi pada pertengahan abad ini. Bahkan di bawah skenario yang paling ambisius dari pengurangan karbon dioksida di masa depan.

Penelitian kolaboratif baru ini, yang meliputi penulis dari Carnegie Institution for Science, University of Exeter, Met Office Hadley Centre dan University of Queensland, menunjukkan bahwa teknik geoengineering yang disebut Solar Radiation Management (SRM) dapat mengurangi risiko pemutihan yang parah di dalam skala global.

Metode SRM melibatkan menyuntikkan gas ke stratosfer, membentuk partikel mikroskopis yang memantulkan beberapa energi matahari, sehingga membantu membatasi naiknya suhu permukaan laut.

Penelitian tersebut membandingkan skenario geoengineering SRM dengan strategi pengurangan CO2 masa depan paling agresif yang direkomendasikan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). Para peneliti kemudian menemukan bahwa terumbu karang bernasib jauh lebih baik di bawah skenario geoengineering meskipun masih terjadi peningkatan pengasaman laut.

Studi internasional tersebut diterbitkan di jurnal ilmiah terkemuka, Nature Climate Change.

Dilansir University of Exeter (25/05/2015), penulis utama, Dr. Lester Kwiatkowski dari Carnegie Institution for Science mengatakan : “Pekerjaan kami menyoroti semacam skenario iklim yang saat ini perlu dipertimbangkan, jika perlindungan terumbu karang merupakan prioritas.”

Dr. Paul Halloran, dari departemen Geografi Universitas Exeter menambahkan : “Penelitian ini menunjukkan bahwa manfaat dari SRM melebihi skenario pengurangan CO2 konvensional, tergantung pada sensitivitas ambang batas suhu pemutihan di masa depan terhadap perubahan keasaman air laut.

Hal ini menekankan kebutuhan untuk lebih mencirikan bagaimana pemanasan dan pengasaman laut dapat berinteraksi untuk mempengaruhi pemutihan karang selama abad ke-21.

Profesor Peter Cox, penulis penelitian, dari Universitas Exeter berkata : “Terumbu karang menghadapi situasi yang mengerikan, terlepas dari bagaimana upaya masyarakat dunia untuk mengurangi emisi karbon. Pada kenyataannya tidak ada pilihan langsung antara mitigasi konvensional dan rekayasa iklim. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa kita perlu menerima bahwa hilangnya persentase besar dari terumbu karang dunia tidak dapat dihindari atau mulai berpikir di luar mitigasi konvensional pengurangan emisi CO2. ”

Temuan ini menunjukkan dampak yang sangat berbeda pada pemutihan karang terhadap langkah-langkah yang berbeda untuk mengatasi perubahan iklim. Teknik-teknik yang berbeda juga akan memiliki efek yang berbeda pada dampak lainnya, seperti pertumbuhan tanaman pangan regional atau ketersediaan air.

Referensi :

Andy J. Wiltshire et al. Coral bleaching under unconventional scenarios of climate warming and ocean acidification. Nature Climate Change, May 2015 DOI: 10.1038/nclimate2655.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here