Bhataramedia.com – Para peneliti di University of Birmingham telah menyoroti kesamaan yang signifikan antara efek perilaku oksitosin dan alkohol.

Penelitian yang diterbitkan di Neuroscience and Biobehavioral Reviews tersebut, mengacu pada studi ke dalam dua senyawa dan detail kesamaan antara efek dari alkohol dan ‘hormon cinta’, oksitosin, pada tindakan kita. Tim peneliti memperingatkan bahwa julukan yang dimiliki oksitosin ternyata menyembunyikan sisi gelap. Peneliti mengklaim bahwa efek dari oksitosin hampir menyerupai efek alkohol daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Oksitosin adalah hormon neuropeptida yang diproduksi di hipotalamus dan disekresikan oleh kelenjar pituitari. Hormon Ini telah lama ditetapkan memainkan peran penting di dalam melahirkan dan ikatan keibuan. Baru-baru ini, oksitosin telah diidentifikasi sebagai senyawa kimia di otak, yang memiliki peran kunci di dalam menentukan interaksi sosial kita dan reaksi kita untuk pasangan percintaan. Sehingga, hormon ini kerap diberi julukan “hormon cinta”.

Oksitosin meningkatkan perilaku prososial seperti altruisme, kemurahan hati dan empati, sehingga membuat kita lebih bersedia untuk mempercayai orang lain. Efek sosial-kognitif ini terjadi dengan menekan kinerja sirkuit prefrontal dan kortikal limbik (menghilangkan “rem” inhibitor sosial seperti ketakutan, kecemasan dan stres).

“Keduanya tampaknya menargetkan reseptor yang berbeda di dalam otak, tetapi menyebabkan tindakan umum pada transmisi GABA di korteks prefrontal dan struktur limbik. Sirkuit saraf ini mengontrol bagaimana kita memandang stres atau kecemasan, terutama di dalam situasi sosial seperti wawancara, atau bahkan mungkin mencabut keberanian untuk meminta seseorang berkencan. Mengambil atau mengkonsumsi senyawa seperti oksitosin dan alkohol tampaknya dapat membuat situasi menjadi kurang menakutkan,” kata Dr. Ian, seperti dilansir University of Birmingham (19/05/2015).

Tim peneliti mengakui bahwa kemampuan untuk menghambat kecemasan dapat memunculkan sedikit keberanian Belanda. Terutama di dalam konteks situasi sosial seperti kencan pertama. Dr. Steven Gillespie mengatakan, “Minum minuman beralkohol kerap digunakan untuk mengatasi ketegangan agar dapat mengatasi ketakutan dan kecemasan. Oksitosin tampaknya juga mencerminkan efek yang sama ketika diuji di laboratorium.”

Ketika diberikan secara nasal (melalui hidung), oksitosin tampaknya memiliki efek yang sama seperti efek pada konsumsi alkohol. Namun, para peneliti memperingatkan mengenai pengguanaan alkohol dan oksitosin untuk memberikan kepercayaan diri.

Bersamaan dengan masalah kesehatan yang menyertai seringnya konsumsi alkohol, ada efek sosial-kognitif yang kurang diinginkan akibat konsumsi alkohol dan oksitosin. Seseorang dapat menjadi lebih agresif, lebih sombong, iri pada yang mereka anggap sebagai pesaing mereka dan mengorbankan orang lain. Senyawa ini dapat mempengaruhi perasaan takut kita, yang biasanya bertindak untuk melindungi kita dari mendapatkan masalah.

Dr Gillespie menambahkan, “Saya tidak berpikir bahwa kita akan melihat penggunaan oksitosin secara sosial sebagai alternatif untuk alkohol. Namun, oksitosin adalah neurokimia yang menarik dan memiliki kemungkinan penggunaan di dalam pengobatan psikologis dan kondisi kejiwaan. Memahami persis bagaimana oksitosin menekan modus tindakan tertentu dan mengubah perilaku kita, dapat memberikan manfaat nyata bagi banyak orang. Mudah-mudahan penelitian ini memberikan sedikit pandangan dan membuka jalan yang belum pernah dipertimbangkan sebelumnya.”

Referensi :

Ian J. Mitchell, Steven M. Gillespie, Ahmad Abu-Akel. Similar effects of intranasal oxytocin administration and acute alcohol consumption on socio-cognitions, emotions and behaviour: Implications for the mechanisms of action. Neuroscience & Biobehavioral Reviews, 2015; 55: 98 DOI: 10.1016/j.neubiorev.2015.04.018.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here