Beranda Health Omega-3 : Intervensi untuk Masalah Perilaku Anak?

Omega-3 : Intervensi untuk Masalah Perilaku Anak?

1144
minyak ikan
Minyak ikan.

Bhataramedia.com –┬áDi garis depan pada bidang yang dikenal sebagai “neurokriminologi,” Adrian Raine dari University of Pennsylvania telah lama mempelajari interaksi antara biologi dan lingkungan ketika berbicara mengenai perilaku antisosial dan kriminal. Dengan bukti-bukti fisiologis kuat bahwa gangguan terhadap bagian otak yang mengatur emosi dapat terwujud melalui ledakan kekerasan, impulsif pengambilan keputusan dan perilaku lain yang terkait dengan kejahatan, banyak penelitian Raine yang melibatkan intervensi biologis dapat berpotensi menangkal hasil perilaku tersebut.

Studi terbaru dari Raine saat ini menunjukkan bahwa omega-3, asam lemak yang biasa ditemukan di dalam minyak ikan, kemungkinan memiliki efek perkembangan saraf jangka panjang yang pada akhirnya dapat mengurangi masalah perilaku antisosial dan agresif pada anak-anak.

Raine adalah seorang Profesor dari Penn University yang juga bekerja di School of Arts & Sciences dan Perelman School of Medicine.

Bersama dengan Raine, penelitian ini juga melibatkan Jill Portnoy, seorang mahasiswa pascasarjana di Departemen Kriminologi dan Jianghong Liu, seorang profesor di Penn School of Nursing. They collaborated. Mereka berkolaborasi dengan Tashneem Mahoomed dari Mauritius’ Joint Child Health Project dan Joseph Hibbeln dari National Institute on Alcohol Abuse and Alcoholism.

Penelitian baru ini diterbitkan di Jurnal Child Psychology and Psychiatry.

Pada saat Raine masih menjadi mahasiswa pascasarjana, pembimbingnya dan rekan-rekannya melakukan studi longitudinal pada anak-anak di negara pulau kecil, Mauritius. Para peneliti melacak perkembangan anak-anak yang telah berpartisipasi di dalam program pengayaan pada saat berusia 3 tahun dan juga perkembangan dari anak-anak yang tidak berpartisipasi. Program pengayaan ini memiliki stimulasi kognitif, latihan fisik dan pengayaan gizi tambahan. Pada usia 11 tahun, para peserta menunjukkan peningkatan yang nyata di dalam fungsi otak yang diukur dengan EEG, dibandingkan dengan yang tidak mengikuti program. Pada usia 23 tahun, mereka menunjukkan penurunan 34 persen di dalam perilaku kriminal.

Raine dan rekan-rekannya tertarik untuk mengungkap faktor-faktor di balik penurunan perilaku kriminal tersebut. Penelitian lain menunjukkan bahwa komponen gizi merupakan salah satu faktor yang layak untuk dipelajari lebih dekat.

“Kami melihat anak-anak yang memiliki status gizi buruk pada usia 3 tahun, lebih antisosial dan agresif di usia 8, 11 dan 17 tahun,” kata Raine. “Hal ini membuat kita untuk kembali melihat intervensi dan melihat apa yang menonjol mengenai komponen gizi. Bagian dari pengayaan adalah anak-anak menerima tambahan dua setengah porsi ikan seminggu,” lanjut Raine.

Penelitian lain pada saat itu mulai menunjukkan bahwa omega-3 sangat penting untuk perkembangan dan fungsi otak.

“Omega-3 mengatur neurotransmiter, meningkatkan kehidupan neuron dan meningkatkan percabangan dendritik, tetapi tubuh kita tidak memproduksinya. Kita hanya dapat mendapatkannya dari lingkungan,” kata Raine.

Penelitian mengenai neuroanatomi dari kejahatan yang disertai kekerasan menunjukkan bahwa komponen gizi tersebut kemungkinan dapat digunakan sebagai intervensi. Hasil pencitraan otak dari peneliti lainnya menunjukkan bahwa suplemen omega-3 meningkatkan fungsi korteks prefrontal dorsolateral. Berdasarkan temuan Raine, daerah ini memiliki tingkat yang lebih tinggi dari kerusakan atau disfungsi yang berhubungan dengan pelaku kriminal.

Studi terbaru Raine menampilkan percobaan terkontrol secara acak, dimana anak-anak akan menerima suplemen omega-3 secara rutin di dalam bentuk minuman jus. Seratus anak-anak, usia 8 sampai 16 tahun, masing-masing akan menerima minuman yang mengandung satu gram omega-3 tiap harinya selama enam bulan. Mereka kemudian membandingkannya dengan 100 anak-anak yang menerima minuman yang sama tanpa suplemen omega-3. Anak-anak dan orang tua di kedua kelompok mengambil serangkaian penilaian kepribadian dan kuesioner di awal penelitian.

Setelah enam bulan, para peneliti melakukan tes darah sederhana untuk melihat apakah anak-anak di dalam kelompok eksperimen memiliki kadar omega-3 yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol. Mereka juga melakukan penilaian kepribadian pada kedua orang tua dan anak-anak. Enam bulan setelah itu, para peneliti mengambil penilaian lagi untuk melihat apakah ada efek yang sedang berlangsung dari suplemen omega-3.

Penilaian tersebut melibatkan orang tua iuntuk menilai anak-anak mereka pada perilaku agresif dan antisosial eksternal, seperti terlibat perkelahian atau berbohong, serta perilaku internal, seperti depresi, kecemasan dan penarikan diri. Anak-anak juga diminta untuk menilai dirinya sendiri pada sifat-sifat ini.

Sementara laporan dari anak-anak sendiri tetap berada di baseline untuk kedua kelompok. Rata-rata tingkat perilaku antisosial dan agresif yang dijelaskan oleh orang tua, turun (rendah) pada kedua kelompok pada titik waktu enam bulan. Bagaimanapun, tingkat mereka kembali ke baseline (naik) untuk kelompok kontrol tetapi tetap turun (rendah) di dalam kelompok eksperimen, pada titik waktu 12 bulan.

“Dibandingkan dengan titik awal bulan ke-nol, kedua kelompok menunjukkan perbaikan baik di masalah perilaku eksternal dan internal setelah enam bulan. Itu adalah efek plasebo,” kata Raine

“Namun, hal yang sangat menarik adalah apa yang terjadi pada 12 bulan. Kelompok kontrol kembali ke baseline, sementara kelompok yang diberi omega-3 terus turun. Pada akhirnya, kami melihat penurunan nilai 42 persen di dalam gangguan perilaku eksternal dan 62 persen pada perilaku internal,” ungkap Raine, seperti dilansir University of Pennsylvania (15/05/2015).

Pada enam dan 12 bulan, para orang tua juga menjawab kuesioner mengenai perilaku mereka sendiri. Anehnya, orang tua juga menunjukkan perbaikan di dalam perilaku antisosial dan agresif mereka. Hal ini kemungkinan dapat terjadi karena orang tua juga mengkonsumsi beberapa suplemen anak mereka, atau hanya karena respon positif terhadap perbaikan perilaku anak mereka sendiri.

Para peneliti mengingatkan bahwa penelitian ini masih pekerjaan awal di dalam mengungkap peran gizi di dalam hubungan antara perkembangan otak dan perilaku antisosial. Perubahan yang terlihat pada periode satu tahun percobaan kemungkinan tidak akan bertahan dan hasilnya kemungkinan tidak dapat digeneralisasi di luar populasi di Mauritius.

Di luar peringatan ini, bagaimanapun juga, ada alasan untuk memeriksa lebih lanjut dari peran omega-3 sebagai intervensi dini potensi perilaku antisosial.

Referensi :

Adrian Raine, Jill Portnoy, Jianghong Liu, Tashneem Mahoomed, Joseph R. Hibbeln. Reduction in behavior problems with omega-3 supplementation in children aged 8-16 years: a randomized, double-blind, placebo-controlled, stratified, parallel-group trial. Journal of Child Psychology and Psychiatry, 2015; 56 (5): 509 DOI: 10.1111/jcpp.12314.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here