Bhataramedia.com – Penelitian baru yang diterbitkan di jurnal online PLoS Outbreaks memprediksi kasus Ebola baru dapat mencapai 6.800 di Afrika Barat pada akhir bulan jika tindakan pengendalian baru tidak berlaku.

Para peneliti  dari Arizona State University dan Harvard University melalui analisis pemodelan juga menemukan bahwa tingkat peningkatan kasus meningkat secara signifikan pada bulan Agustus di Liberia dan Guinea. Pada waktu tersebut karantina massal itu diberlakukan, namun justru menunjukkan bahwa upaya karantina massa lemungkinan telah membuat wabah menjadi lebih buruk, bukan sebaliknya.

“Memburuknya kondisi  hidup dan kebersihan di beberapa daerah dikarantina memicu kerusuhan bulan lalu. Sierra Leone baru saja memulai karantina di seluruh negara tiga hari ini, dimana semua warga negara telah diminta untuk tinggal di rumah,” kata Sherry Towers, profesor riset di ASU Simon A. Levin Mathematical, Computational and Modelling Sciences Center (MCMSC).

“Kemungkinan ada alasan lain untuk memburuknya penyebaran wabah, termasuk kemungkinan bahwa virus telah menjadi lebih menular. Namun ada kemungkinan juga bahwa upaya pengendalian karantina benar-benar membuat wabah menyebar lebih cepat karena banyak orang berkerumun bersama-sama di dalam kondisi tidak sehat,” kata Towers, Arizona State University (19/9/2014).

Penelitian dengan judul  “Temporal variations in the effective reproduction number of the 2014 West Africa Ebola outbreak” tersebut ditulis oleh Towers, Oscar Patterson-Lomba dari Harvard School of Public Health dan Carlos Castillo-Chavez, profesor ASU dan direktur eksekutif MCMSC.

Para peneliti menilai apakah upaya pengendalian efektif untuk mengendalikan wabah Ebola yang sedang berlangsung di Afrika Barat dan telah tersebar di area geografis yang luas, serta menyebabkan ribuan infeksi dan kematian. Oleh karena wabah tersebut telah menyebar ke daerah padat penduduk, risiko penyebaran internasional meningkat. Menurut penelitian tersebut, hal lainnya yang juga menambah masalah adalah kurangnya sumber daya untuk karantina yang efektif dan isolasi di negara-negara belum berkembang yang telah terpengaruh dan tingginya mobilitas penduduk di wilayah perbatasan yang rapuh.

“Saat ini, tidak ada vaksin berlisensi atau pengobatan khusus untuk mengobati penyakit akibat virus Ebola. Hal ini membuat peningkatkan kesehatan, karantina, isolasi dan jarak sosial sebagai satu-satunya intervensi potensial,” kata Castillo-Chavez. “Peningkatan tindakan pengendalian harus dilakukan pada tempatnya.”

“Pada hari Selasa, Presiden Obama mengumumkan bahwa 3.000 tentara AS dan tenaga medis akan dikirim ke wilayah Afrika Barat untuk membantu mengendalikan wabah,” tambahnya.

Para peneliti memeriksa data wabah pada saat terjadi di Guinea, Sierra Leone dan Liberia melalui metode penelitian statistik hingga tanggal 8 September 2014, seperti yang diperkirakan oleh Organisasi Kesehatan Dunia. Analisis tersebut memeriksa kenaikan eksponensial secara lokal untuk memperkirakan berapa jumlah reproduksi kasus yang berubah dari waktu ke waktu. Perhitungan menunjukkan perkiraan 6.800 kasus baru (batas atas) dan rata-rata 4.400 kasus baru. Studi tersebut didanai oleh National Institute of General Medical Sciences at the National Institutes of Health

Informasi lebih lanjut dapat dilihat di: http://currents.plos.org/outbreaks/article/temporal-variations-in-the-effective-reproduction-number-of-the-2014-west-africa-ebola-outbreak/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here