Beranda Headlines Strategi Pengobatan Kombinasi Baru untuk Glioblastoma

Strategi Pengobatan Kombinasi Baru untuk Glioblastoma

1670
pembelahan sel, sel kanker
Gambar ini menampilkan sel normal yang membelah (kiri) dan sel kanker yang membelah (kanan). Inhibitor PLK1 menekan sel-sel kanker, membuat sel kanker lebih mudah untuk dibunuh.(Credit: UC San Diego Health System)

Bhataramedia.com – Terapi yang secara khusus menargetkan mutasi pada kanker seseorang telah banyak digembar-gemborkan di dalam beberapa tahun terakhir. Namun, sel-sel kanker sering menemukan cara untuk menghindarinya. Untuk mengatasi hal ini, para peneliti di University of California, San Diego School of Medicine dan Moores Cancer Center mengidentifikasi pendekatan kombinasi yang menjanjikan untuk mengobati glioblastoma, bentuk paling umum dari kanker otak primer.

Penelitian yang diterbitkan tanggal 5 Mei oleh Oncotarget, menunjukkan bahwa model tikus dengan glioblastoma dan jaringan glioblastoma manusia yang dikultur di laboratorium dapat diobati secara efektif dengan menggabungkan tiga kelas obat antikanker. Obat ini terdiri dari : obat yang menargetkan mutasi kanker pada gen Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR), obat yang meningkatkan stres pada sel kanker dan obat yang merusak DNA sel kanker.

“Mengembangkan terapi terhadap glioblastoma seperti permainan catur. Pada setiap terapi yang diberikan, oleh dokter, kanker membuat langkah perlawanan,” kata penulis senior Clark Chen, M.D., Ph.D., profesor bedah saraf dan wakil ketua Penelitian dan Pengembangan Akademik di UC San Diego.

Di dalam lebih dari 50 persen glioblastoma, mutasi pada gen EGFR membuat sel-sel kanker tidak sensitif terhadap regulasi pertumbuhan oleh isyarat lingkungan, sehingga memungkinkan mereka untuk tumbuh tak terkendali. Namun, inhibitor EGFR spesifik tidak terlalu efektif terhadap glioblastoma dengan mutasi EGFR.

“Ketika sel-sel glioblastoma diperlakukan dengan inhibitor EGFR, mereka mengaktifkan reseptor lain untuk memotong kebutuhan untuk EGFR,” kata Chen. “Setiap harapan pengobatan yang efektif memerlukan kombinasi gerakan yang dirancang strategis untuk ‘skak mat’,” jelas Chen.

Agar dapat mengembangkan strategi seperti itu, Chen dan kelompoknya beralih ke PLK1, protein yang mengatur tingkat stres di dalam sel glioblastoma dan sangat penting untuk kelangsungan hidup mereka. Chen dan kelompoknya menemukan bahwa sel-sel glioblastoma yang kebal terhadap inhibitor EGFR, secara universal tetap tergantung pada protein ini.

Di dalam model tikus dengan glioblastoma dan eksplan dari glioblastoma manusia, pengobatan tunggal dengan inhibitor EGFR, inhibitor PLK1 atau obat standar perawatan glioblastoma (agen yang merusak DNA kanker), masing-masing untuk sementara menghentikan pertumbuhan glioblastoma. Namun, tumor pada akhirnya tumbuh kembali. Namun, tidak ada kekambuhan tumor yang terdeteksi, ketika kombinasi dari ketiga kelas obat ini diberikan. Tikus yang diberi perlakuam dapat mentoleransi kombinasi ini tanpa menunjukkan efek samping yang signifikan.

“Sering diasumsikan bahwa jika kita menemukan mutasi penyebab kanker dan menghambat fungsi mutasi itu, kita akan dapat menyembuhkan kanker,” kata rekan penulis studi, Bob S. Carter, M.D, Ph.D., kepala bedah saraf di UC San Diego.

“Penelitian kami menunjukkan bahwa kenyataannya jauh lebih kompleks. Hasil kami menyediakan cetak biru untuk bagaimana memanfaatkan konsep biologis dasar untuk mengatasi kompleksitas tantangan ini,” ungkap Carter, seperti dilansir University of California, San Diego Health Sciences (08/05/2015).

Ketiga obat yang diberikan kepada tikus di dalam penelitian ini adalah: BI2536, inhibitor PLK1; Gefitnib, inhibitor EGFR; dan TMZ, standar perawatan kemoterapi untuk glioblastoma. Para penulis penelitian mencatat bahwa sementara efek keselamatan atau efek samping mengobati pasien manusia dengan kombinasi tiga obat ini belum diketahui, secara individual semua obat dapat ditoleransi oleh manusia. Profil keamanan klinis Gefitinib dan TMZ yang telah baku untuk pasien glioblastoma dan inhibitor PLK1 sejauh ini telah ditoleransi dengan baik di dalam uji klinis (satu telah maju ke Tahap III uji klinis untuk leukemia myeloid akut).

Referensi :

Clark C. Chen et al. Orthogonal targeting of EGFRvIII expressing glioblastomas through simultaneous EGFR and PLK1 inhibition. Oncotarget, May 2015.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here