Bhataramedia.com – Bukti bahwa peradaban kuno Indonesia tidak kalah tinggi dengan bangsa lain satu per satu mulai terkuak. Setelah bukti berupa Candi Borobudur yang tak terbantahkan, baru-baru ini penelitian yang dilakukan Tim Katastrofi Purba dari Staf Khusus Kepresidenan Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, menemukan bahwa Gunung Padang yang terletak di Cianjur, Jawa Barat, adalah situs peninggalan zaman megalitikum dengan detail yang luar biasa.

Penelitian ini sebenarnya untuk mencari keterkaitan antara bencana dengan kearifan masa lalu. Bencana adalah kejadian alam yang sudah terjadi sejak jaman purba, maka tidak menutup kemungkinan ada peradaban yang musnah akibat bencana. Penelitian ini berusaha mencari tahu seperti apa kearifan kuno untuk menghadapi bencana tersebut.

Salah satu hasil besarnya yakni penemuan hamparan pasir di kedalaman 3-5 meter di bawah situs Gunung Padang. Diduga, pasir ini digunakan untuk mengantisipasi guncangan akibat gempa, karena lokasinya yang dekat dengan patahan Cimandiri.

Gunung Padang memiliki luas sekitar 900 meter persegi dan berada di ketinggian 885 meter di atas permukaan laut. Areal situs sekitar 3 hektar dan menjadikannya punden berundak terbesar di Asia Tenggara.

Situs ini telah menarik perhatian sejak Belanda masih berkuasa di tanah air. Laporan pertama mengenai situs ini diterbitkan di Rapporten van de Oudheidkundige Dienst (Buletin Dinas Kepurbakalaan), dan sempat disebut oleh sejarawan N.J. Krom pada 1949. Penelitian resmi baru dilakukan terhadap situs ini pada 1979 oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas).

Koordinator Tim Katastrofi, Andi Arief, mengatakan bahwa situs Gunung Padang jauh lebih luar biasa daripada yang diketahui masyarakat umum. Misalnya, hingga kedalaman 20 meter dari puncak ternyata terdapat struktur bangunan yang telah dikonfirmasi oleh bantuan geolistrik dan georadar. Tim peneliti percaya, struktur bangunan ini memenuhi keseluruhan bukit hingga kedalaman 100 meter.

Situs yang diperkirakan dibangun pada tahun 4.700 Sebelum Masehi ini merupakan bukti nyata bahwa peradaban Indonesia tidaklah primitif seperti yang dikatakan para ahli. Hal ini sesuai dengan penelitian Stephen Oppenheimer yang menuliskan bahwa peradaban Indonesia sudah sangat maju sejak 10.000 tahun yang lalu.

“Ini adalah bukti yang pertama kalinya ditemukan di Indonesia. Hal ini diharapkan menjadi pionir untuk menguak masa prasejarah Indonesia yang selalu diasumsikan primitif itu oleh banyak orang termasuk para ahli arkeologi,” ujar Andi Arief.

Selain itu, ditemukan pula artefak berupa koin logam yang diduga telah berasal dari masa 5.200 SM. Koin tersebut berdiameter 1,7 cm dan tebal 1,5 mm. Garis melingkar di sekeliling koin terbentuk dari lingkaran-lingkaran kecil bergaris tengah 0,3 mm dengan jumlah 84 lubang. Sebelumnya, ditemukan juga mata tombak, trak logam, tongkat, dan gerabah.

Saat ini penelitian di Gunung Padang masih terus dilanjutkan. Pemerintah kabarnya membiayai penelitian sejumlah Rp 24 triliun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here