Bhataramedia.com – Perubahan iklim dapat membuat derah lintang tinggi belahan bumi Utara menjadi lahan yang cocok digunakan untuk pertanian, namun dapat menurunkan  kondisi lahan pertanian di daerah tropis. Hal tersebut berdasarkan penelitian yang diterbitkan tanggal 17 September, 2014 di jurnal akses terbuka PLoS ONE oleh Florian Zabel dari Ludwig Maximilians University, Jerman dan rekan-rekannya.

Sebagian besar lahan pertanian di Bumi sebagian besar sudah ditanami. Faktor-faktor ekologis seperti iklim, kualitas tanah, pasokan air dan topografi menentukan kesesuaian lahan pertanian. Perubahan iklim dapat mempengaruhi pertanian global, namun beberapa daerah dapat mendapatkan manfaat dari perubahan tersebut.

Di dalam studi baru tersebut, para peneliti berfokus pada kemungkinan dampak perubahan iklim terhadap lahan yang cocok untuk pertanian dan tanaman penghasil energi utama di seluruh dunia, termasuk kebutuhan pokok seperti jagung, beras, kedelai dan gandum. Para peneliti mensimulasi dampak perubahan iklim terhadap produksi pertanian selama abad ke-21 dan menemukan bahwa dua pertiga dari seluruh tanah yang berpotensi cocok untuk pertanian sudah ditanami.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan iklim dapat memperluas pasokan lahan pertanian di lintang tinggi belahan bumi Utara, termasuk Kanada, Rusia dan Cina, selama 100 tahun ke depan. Namun, dengan tidak adanya langkah-langkah adaptasi seperti peningkatan irigasi, simulasi tersebut memproyeksikan kerugian yang signifikan dari lahan pertanian di daerah Mediterania dan di beberapa bagian Sub-Sahara Afrika. Tanah yang cocok digunakan untuk pertanian sekitar 54 juta km2 dan 91% sudah ditanami.

“Sebagian besar wilayah tambahan, tidak sepenuhnya cocok untuk pertanian, sehingga proporsi tanah sangat subur yang digunakan untuk produksi tanaman akan menurun,” kata Zabel.

“Selain itu, , perubahan iklim kemungkinan akan secara signifikan mengurangi jumlah panen per tahun di daerah tropis, seperti Brasil, Asia dan Afrika Tengah,” lanjut dia.

“Di dalam konteks proyeksi saat ini yang memprediksi bahwa permintaan untuk makanan akan menjadi dua kali lipat pada tahun 2050 sebagai akibat dari peningkatan populasi, hasil kami cukup mengkhawatirkan. Selain itu, kita harus mempertimbangkan prospek meningkatnya tekanan pada sumber daya lahan untuk budidaya tanaman hijau dan pakan ternak karena meningkatnya permintaan untuk daging, serta perluasan pemanfaatan lahan untuk produksi bioenergi,” kata Zabel.

Referensi :

Florian Zabel, Birgitta Putzenlechner, Wolfram Mauser. Global Agricultural Land Resources – A High Resolution Suitability Evaluation and Its Perspectives until 2100 under Climate Change Conditions. PLoS ONE, 2014; 9 (9): e107522 DOI: 10.1371/journal.pone.0107522.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here