Bhataramedia.com –┬áSeiring peningkatan karbon dioksida yang mendorong peningkatan suhu laut, terumbu karang di daerah tropis menghadapi masa depan yang suram. Proyeksi model iklim baru menunjukkan bahwa kondisi tersebut cenderung meningkatkan frekuensi dan tingkat keparahan wabah penyakit karang. Hal ini berdasarkan laporan tim peneliti yang dipimpin oleh ilmuwan Cornell University, yang diterbitkan tanggal 4 Mei di Nature Climate Change.

Dilansir Cornell University (04/05/2015), pelestarian terumbu karang sangat penting untuk menjaga keanekaragaman hayati laut kita dan mempertahankan mata pencaharian dari 500 juta orang yang bergantung pada terumbu karang. Terumbu karang juga penting untuk ekonomi global, US National Oceanic and Atmospheric Administration memperkirakan sistem terumbu karang dunia bernilai sekitar $30 miliar per tahun.

Pada bidang pertanian, para ilmuwan telah memodelkan risiko penyakit dan waktu terjadinya wabah dengan menggunakan cuaca selama beberapa dekade. Namun, output model baru dari kondisi masa depan terumbu karang ini adalah yang pertama memeriksa bagaimana perubahan iklim mempengaruhi risiko penyakit antara satwa liar di lingkungan laut. Tim peneliti juga membandingkan output model mereka dengan dugaan perubahan di masa depan.

“Hasil ini menunjukkan bahwa peningkatan prevalensi dan keparahan penyakit karang akan menjadi pendorong utama penurunan dan perubahan komposisi komunitas terumbu karang di masa depan. Setidaknya hal ini merupakan pendorong yang sama besarnya dengan pemutihan karang,” kata Jeffrey Maynard, seorang peneliti postdoctoral di bidang ekologi dan biologi evolusioner dan penulis utama penelitian dengan judul “Projections of Climate Conditions That Increase Coral Disease Susceptibility and Pathogen Virulence.”

Kondisi lebih hangat meningkatkan kerentanan karang dengan pathogen, sehingga menyebabkan penyakit serta peningkatan kelimpahan dan virulensi patogen. Tekanan ini disebabkan oleh aktivitas manusia di dekat terumbu karang, seperti polusi laut, sedimentasi yang disebabkan oleh pembangunan pesisir dan overfishing. Tim peneliti meneliti implikasi dari kedua jenis tekanan terhadap terumbu karang untuk menghasilkan peta global dari risiko penyakit.

Pengelola terumbu karang dan pembuat kebijakan saat ini dapat menggunakan peta ini untuk menargetkan tindakan yang dapat mengurangi stres pada terumbu karang dan untuk menguji pendekatan yang dapat mengurangi dampak penyakit.

“Ini adalah upaya pertama untuk memproyeksikan efek sinergisme antara iklim dan stres yang berhubungan dengan manusia pada risiko penyakit karang,” kata penulis senior Drew Harvell, profesor ekologi dan biologi evolusi di Cornell.

Para ilmuwan mengatakan bahwa dampak kemungkinan dampak penyakit karang pada komposisi dan kondisi komunitas terumbu karang di masa depan sejauh ini kurang dihargai. Mereka berharap dapat mengubah hal ini melalui diterbitkannya menerbitkan karya ilmiah tersebut.

Ada banyak daerah di mana penyakit menyebabkan kematian lebih pada karang dibandingkan pemutihan karang. Untuk alasan ini, Maynard dan ilmuwan lain menyarankan pembangunan rencana respon sistem peringatan penyakit karang untuk membantu konservasi dan pengelola mengurangi dampak penyakit. “Untuk mengembangkan sistem peringatan ini, ada kebutuhan penting untuk memperluas wawasan di wilayah ini, karena masih terbatasnya alat untuk meramalkan wabah penyakit karang. Tulisan ini adalah awal menuju arah tersebut,” kata Maynard.

Referensi :

Jeffrey Maynard, Ruben van Hooidonk, C. Mark Eakin, Marjetta Puotinen, Melissa Garren, Gareth Williams, Scott F. Heron, Joleah Lamb, Ernesto Weil, Bette Willis, C. Drew Harvell. Projections of climate conditions that increase coral disease susceptibility and pathogen abundance and virulence. Nature Climate Change, 2015; DOI: 10.1038/nclimate2625.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here