Bhataramedia.com – Hasil studi baru menunjukkan bahwa gajah Asia lebih suka hutan sekunder karena memiliki lebih banyak rumput untuk dimakan. Gajah Asia menghabiskan 75% waktunya di dalam jarak 1,5 km dari sumber air.

Menurut International Union for Conservation of Nature, gajah Asia sekarang merupakan spesies yang terancam punah. Hari ini, hanya ada 40.000 gajah yang tersisa di daratan Asia dan sekitar 1,200-1,700 di Semenanjung Malaysia. Hilangnya habitat dan fragmentasi hutan dianggap sebagai ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup mereka. Banyak dari habitat mereka telah dikonversi menjadi perkebunan, perumahan, jalan raya dan “skema pembangunan” manusia lainnya.

Di dalam naskah ilmiah yang baru-baru ini diterbitkan di Pertanika Journal of Science and Technology, Suhaida Aini dan rekan-rekannya menggunakan sistem informasi geografis (SIG) untuk menganalisis berbagai rumah dan preferensi habitat gajah Asia di Semenanjung Malaysia. Di dalam studi mereka, mereka melacak dua gajah di Johor Utara dan  dengan menggunakan teknologi pelacakan satelit.

Studi ini menemukan bahwa kedua gajah menghabiskan sebagian besar waktu mereka di hutan sekunder atau “hutan bekas tebangan.” Hal ini disebabkan banyaknya rumput sebagai sumber makanan di dalam kawasan hutan. Jalan bekas logging di hutan sekunder juga menyediakan akses yang baik bagi gajah untuk bergerak. Rata-rata, lebih dari 50% jangkauan habitat kedua gajah terjadi di tipe hutan ini.

Namun, gajah di Johor bagian utara cenderung untuk lebih sering melakukan perjalanan daripada yang ada di Taman Nasional Terengganu. Hal ini disebabkan karena banyak habitat hutan bekas tebangan di Johor bagian utara telah dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit.

Dilansir Universiti Putra Malaysia (01/05/2015), parameter habitat lainnya yang dianalisis di dalam penelitian adalah sumber air. Kedua gajah menghabiskan 75% waktu bepergian mereka di daerah kurang dari 1,5 km jauhnya dari sumber air. Para peneliti juga menemukan korelasi negatif antara sumber air dan distribusi gajah. Seiring peningkatan jarak dari sumber air, distribusi gajah semakin menurun.

Temuan ini menunjukkan kemampuan SIG untuk memberikan data yang akurat dan dapat diandalkan untuk menganalisis preferensi habitat gajah Asia. Studi ini menunjukkan bahwa konservasi hewan-hewan ini membutuhkan praktek manajemen yang baik, di dalam dan di luar kawasan lindung.

Referensi :

Suhaida Aini, Alias Mohd Sood and Salman Saaban. Analysing Elephant Habitat Parameters using GIS, Remote Sensing and Analytic Hierarchy Process in Peninsular Malaysia. Pertanika Journal of Science and Technology, 23(1): 37-50(2015).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here