Bhataramedia.com – Mikroalga menawarkan alternatif yang sangat menjanjikan untuk produk minyak bumi, tanpa harus bersaing dengan sumber daya mikroalga yang digunakan di dalam industri makanan. Mikroalga saat ini untuk pertama kalinya telah digunakan untuk membuat aspal.

Para peneliti yang bekerja sama dengan perusahaan AlgoSource Technologies, telah membuktikan kelayakan bioaspal. Bioaspal ini menunjukkan kesamaan yang menyerupai aspal asli yang biasa digunakan untuk membuat jalan. Temuan mereka telah diterbitkan di ACS Sustainable Chemistry & Engineering edisi April.

Mikroalga telah lama dikenal penggunaannya di dalam aplikasi seperti pewarna kosmetik dan suplemen makanan. Di dalam tahun-tahun terakhir, ide-ide baru untuk memanfaatkan mikroalga telah muncul, misalnya untuk menghasilkan biofuel. Hari ini, mikroalga diakui sebagai alternatif yang menjanjikan untuk minyak bumi. Perkembangan yang efisien dan proses hemat biaya dapat membuat berbagai macam derivatif mikroalga yang berguna menjadi tersedia.

Sebagai bagian dari program “Algoroute”, yang didanai oleh France’s Pays de la Loire region, para peneliti di laboratorium yang berbasis di Nantes dan Orléans telah menghasilkan bioaspal dari residu yang dihasilkan mikroalga, misalnya, dari ekstraksi protein hydrosoluble untuk industri kosmetik. Mereka menggunakan proses pencairan hidrotermal, air bertekanan (di dalam keadaan subkritis), untuk mengubah limbah mikroalga ini menjadi substansi yang hitam, kental dan hidrofobik, yang mirip aspal yang berasal dari petroleum (lihat ilustrasi di bawah). Proses saat ini mencapai efisiensi konversi 55%.

Dilansir CNRS (Délégation Paris Michel-Ange) (20/04/2015), meskipun komposisi kimia bioaspal benar-benar berbeda dari yang berasal dari petroleum, mereka memiliki kesamaan, termasuk warna hitam dan sifat-sifatnya. Sifat-sifat tersebut adalah; cair pada suhu melebihi 100°C, bioaspal dapat digunakan untuk melapisi mineral agregat, viskoelastik pada -20°C hingga 60°C, sehingga dapat memastikan kohesi struktur granular dan mendukung beban mekanik. Percobaan sedang dilakukan untuk menganalisis perilaku material dari waktu ke waktu, serta studi efektivitas biaya untuk mengevaluasi potensi produksi skala besar.

Inovasi ini menawarkan pilihan baru yang mungkin untuk industri pembangunan jalan, yang saat ini sepenuhnya tergantung pada minyak bumi. Jenis-jenis bioaspal yang telah dikembangka, sejauh ini mengandalkan minyak yang berasal dari pertanian (dibutuhkan untuk nutrisi manusia) atau dari industri kertas, dicampur dengan resin untuk meningkatkan sifat viskoelastik mereka. Mikroalga yang budidayanya tidak memerlukan penggunaan lahan, dapat menawarkan solusi yang menarik.

Penelitian ini dilakukan secara kolaborasi oleh para peneliti di CEISAM (Chimie et Interdisciplinarité: Synthèse, Analyse, Modélisation — CNRS / Université de Nantes), GEPEA (Génie des Procédés Environnement et Agroalimentaire — CNRS / Université de Nantes / ONIRIS / Ecole des Mines de Nantes), IFSTTAR (Matériaux pour Infrastructures de Transport) dan CEMHTI (Conditions Extrêmes et Matériaux: Haute Température et Irradiation — CNRS).

Referensi :

Mariane Audo, Maria Paraschiv, Clémence Queffélec, Isabelle Louvet, Julie Hémez, Franck Fayon, Olivier Lépine, Jack Legrand, Mohand Tazerout, Emmanuel Chailleux, Bruno Bujoli. Subcritical Hydrothermal Liquefaction of Microalgae Residues as a Green Route to Alternative Road Binders. ACS Sustainable Chemistry & Engineering, 2015; 3 (4): 583 DOI: 10.1021/acssuschemeng.5b00088.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here