Bhataramedia.com – Tim ilmuwan internasional telah menggunakan catatan fosil selama 23 juta tahun terakhir untuk memprediksi hewan dan ekosistem laut mana yang memiliki risiko kepunahan terbesar akibat dampak dari manusia.

Di dalam naskah ilmiah yang diterbitkan di jurnal Science, para peneliti menemukan hewan-hewan dan ekosistem yang paling terancam adalah ekosistem di daerah tropis.

“Spesies laut berada di bawah ancaman dari dampak manusia, tetapi pengetahuan mengenai kerentanan mereka terbatas,” kata rekan penulis studi, Profesor John Pandolfi dari ARC Centre of Excellence for Coral Reef Studies di University of Queensland.

Para peneliti menemukan bahwa prediktor kerentanan kepunahan, ukuran rentang geografis dan jenis organisme, tetap konsisten selama 23 juta tahun terakhir.

Dengan demikian, mereka dapat menggunakan catatan fosil untuk menilai risiko dasar kepunahan bagi hewan laut, termasuk hiu, ikan paus dan lumba-lumba, serta organisme menetap kecil seperti siput, kerang dan karang.

Mereka kemudian memetakan daerah di mana spesies-spesies dengan risiko tinggi paling terpengaruh oleh dampak manusia dan perubahan iklim saat ini.

“Tujuan kami adalah untuk mendiagnosa spesies yang rentan di dunia modern, dengan menggunakan masa lalu sebagai panduan” kata penulis utama studi, Asisten Profesor Seth Finnegan dari University of California Berkeley.

“Kami menggunakan perkiraan-perkiraan ini untuk memetakan risiko kepunahan alami di lautan modern dan membandingkannya dengan tekanan manusia terhadap lautan baru-baru ini, seperti memancing,dan perubahan iklim, untuk mengidentifikasi daerah yang paling berisiko,” kata Profesor Pandolfi.

“Daerah-daerah tersebut kebanyakan di daerah tropis, sehingga meningkatkan kemungkinan bahwa ekosistem ini kemungkinan sangat rentan terhadap kepunahan di masa depa,” lanjut dia, seperti dilansir ARC Centre of Excellence in Coral Reef Studies (30/04/2015).

Para ilmuwan mengatakan bahwa mengidentifikasi daerah dan spesies paling berisiko dapat membuat upaya konservasi lebih tepat sasaran.

“Kami percaya, masa lalu dapat menginformasikan cara kita merencanakan upaya konservasi. Namun ada lebih banyak pekerjaan yang perlu dilakukan untuk memahami penyebab pola-pola ini dan implikasi kebijakan yang dilakukan,” kata Asst. Profesor, Seth Finnegan.

Rekan penulis, Dr. Sean Anderson dari Simon Fraser University di Burnaby, British Columbia menambahkan, “Sangat sulit untuk mendeteksi kepunahan di lautan modern, tetapi fosil dapat membantu mengisi kekosongan.”

“Temuan kami dapat membantu memprioritaskan daerah dan spesies yang kemungkinan berada pada risiko kepunahan yang lebih besar dan yang memerlukan perhatian ekstra, konservasi atau manajemen. Melindungi spesies yang rentan di tempat-tempat yang rawan,” kata Dr. Anderson.

Referensi :

Seth Finnegan, Sean C. Anderson, Paul G. Harnik, Carl Simpson, Derek P. Tittensor, Jarrett E. Byrnes, Zoe V. Finkel, David R. Lindberg, Lee Hsiang Liow, Rowan Lockwood, Heike K. Lotze, Craig R. McClain, Jenny L. McGuire, Aaron O’Dea, and John M. Pandolfi. Paleontological baselines for evaluating extinction risk in the modern oceans. Science, April 2015 DOI: 10.1126/science.aaa6635.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here