Bhataramedia.com – Peningkatan jumlah penduduk yang terjadi setiap tahunnya memberikan berbagai dampak baik positif maupun negatif. Dampak positif yang ditimbulkan tentunya memberikan manfaat yang bagus. Namun dampak negatif dari pertambahan jumlah penduduk ini yang dikhawatirkan. Misalnya saja, semakin meningkatnya jumlah penduduk maka meningkat pula jumlah perumahan rakyat. Akan tetapi lahan untuk membangun perumahan ini bersumber dari lahan pertanian. Akibatnya lahan pertanian yang ada saat ini semakin berkurang karena tergerus dan dijadikan lahan perumahan atau pun dijadikan lahan pertokoan.

Hal tersebut dibenarkan oleh Departemen Pertanian yang diwakili oleh Dr. Ir. Winny Dian Wibawa, M.Sc selaku Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian. “Lahan pertanian kita ini terus tergerus dan berubah statusnya menjadi mall atau pertokoan,” tutur Winny, seperti yang dikutip dari website resmi UGM (24/04/2015).

Di dalam kesempatan acara Bimtek Pendampingan Mahasiswa Dalam Upaya Khusus Peningkatan Produksi Padi, Jagung dan Kedelai di UC UGM yang digelar di kampus UGM pada Jumat (24/04) ini, Winny juga menjelaskan berkurangnya lahan pertanian mengakibatkan terancamnya kebutuhan pangan bagi masyarakat Indonesia. Keadaan ini menjadi salah satu alasan dilakukannya program swasembada pangan yang sedang difokuskan oleh pemerintah dalam kurun waktu tiga tahun mendatang. Menurut Winny program swasembada pangan ini dapat dimulai dengan jenis tanaman yang termasuk ke dalam bahan pangan pokok. “Hal itu bisa dimulai dari padi, jagung maupun kedelai,” jelas Winny.

Ada berbagai kesulitan yang tengah dihadapi oleh pemerintah dalam melaksanakan program swasembada pangan ini. Kesulitan tersebut seperti masalah lahan pertanian yang berkurang, masalah irigasi, masalah benih tanaman yang jelek, rendahnya jumlah petani dan rendahnya jumlah penyuluh. Padahal menurut Winny penyuluh yang ada ditingkat kecamatan merupakan salah satu faktor kesuksesan dalam program swasembada pangan ini. Akan tetapi, sayangnya jumlah penyuluh yang ada saat ini masih jauh dari kata ideal. “Seharusnya jumlah penyuluh pertanian di Indonesia mencapai 100 ribu orang. Jadi masih kurang,”tutur Winny. Oleh karena itu, pada kesempatan acara itu Winny mengajak mahasiswa dan Balai Penyuluh Pertanian untuk berpartisipasi menyukseskan program swasembada pangan ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here