Bhataramedia.com – Tahun ajaran baru selalu dihiasi dengan fenomena Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK). Bermacam atribut dan permintaan aneh-aneh dari kakak senior menjadi hal yang identik dalam Ospek. Pertanyaannya, pentingkah Ospek untuk pendidikan kita?

Sebenarnya, Ospek adalah hal yang tak terpisahkan dari pengenalan kampus kepada mahasiswa-mahasiswa baru, yang masih belum paham dengan seluk beluk kampus yang dimasukinya. Maka seperti yang tercermin dari namanya, kegiatan Ospek sejatinya untuk membantu pelajar-pelajar baru mengenali kampusnya agar lebih nyaman dalam belajar atau berorganisasi. Namun, Ospek di Indonesia amat jauh dari harapan.

Ospek diklaim sebagai pendidikan karakter oleh mereka yang melakukannya. Namun, pendidikan karakter seperti apa yang bisa didapat dari berpakaian hula-hula, bertopi kardus, dan mengalungi kantong kresek? Beberapa sumber juga menyebutkan Ospek adalah kegiatan untuk kreativitas, namun ironisnya justru diterapkan dengan sistem perploncoan.

Sebuah studi yang dilakukan oleh salah satu situs pendidikan karakter Indonesia, karakter yang terbentuk dari Ospek kita selama ini adalah dendam, marah, rendah diri, mudah cemas, pesimis, dan penakut. Semua karakter negatif tersebut merupakan hasil dari “siksaan” yang diterapkan dalam Ospek seperti dibentak hingga dipermalukan di depan umum.

Tidak jarang juga yang berkomentar bahwa Ospek akan memunculkan sifat pemberani dan disiplin, yang merupakan faktor utama untuk memperoleh kesuksesan. Karakter “berani” memang dapat tumbuh dari perploncoan ini, namun bukan berani dalam pengertian positif, melainkan berani yang terbentuk dari sakit hati dan keinginan untuk membalas.

Sedikit mengenai kesuksesan ini, Thomas J. Stanley mengatakan bahwa ukuran kesuksesan ada tiga, yakni populer (terkenal), produktif (menghasilkan sesuatu), dan materi (kaya raya). Memenuhi salah satu dari ketiganya sudah disebut sukses.

Tahun 1999, Stanley melakukan penelitian dengan hanya melihat pendekatan materi, tentang bagaimana caranya memperoleh kesuksesan. Respondennya terdiri dari 800 orang dengan kekayaan minimal 1 juta dollar (sekitar Rp 12 milyar). Hasilnya, sukses dapat diraih dengan lima hal, yakni jujur pada semua orang, disiplin, pandai bergaul, punya pendamping yang mendukung, dan bekerja lebih keras.

Fakta yang saat ini terjadi di Indonesia, pengangguran terdidik berjumlah lebih dari 10.000 orang pada satu provinsi. Padahal, dalam provinsi tersebut terdapat 1.200 perusahaan. Sarjana Indonesia banyak yang dianggap belum siap dari segi kualitas dan potensi, alias belum memiliki mental sukses.

Maka, jika kita ingin generasi Indonesia menjadi generasi yang sukses, cukup tanamkan lima hal tersebut. Kita dapat mengadopsi sistem Ospek luar negeri yang memberi masing-masing pesertanya sebuah proyek untuk dikerjakan kemudian dipresentasikan di depan teman-temannya, atau dengan memberi peserta pelatihan problem solving dan pelatihan kekompakan.

Harapannya, tidak perlu lagi ada kegiatan yang mengatasnamakan “kreativitas” namun pada kenyataannya merendahkan harga diri orang lain. Seharusnya, Ospek adalah langkah awal untuk menanamkan sikap jujur, disiplin, bersosialisasi dan komitmen terhadap tugas kepada mahasiswa-mahasiswa baru, bukan ajang pelecehan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here