Bhataramedia.com – Studi baru dari University of Michigan Comprehensive Cancer Center menemukan bahwa banyak wanita yang didiagnosa menderita kanker payudara, prihatin mengenai risiko genetik untuk mengembangkan jenis kanker lain pada dirinya sendiri atau pada orang-orang yang dicintai.

Secara keseluruhan, 35 persen wanita dengan kanker payudara menyatakan keinginan yang kuat untuk pengujian genetik, tetapi 43 persen dari para wanita tersebut tidak memiliki diskusi yang relevan dengan profesional perawatan kesehatan. Studi ini juga menemukan bahwa pasien ras minoritas dengan keinginan yang kuat untuk pengujian,  kurang mungkin membicarakan hal ini dengan profesional kesehatan, dibandingkan pasien berkulit putih. Meskipun studi menunjukkan bahwa pasien minoritas tidak berada pada risiko yang lebih rendah untuk kanker payudara.

“Temuan kami menunjukkan kebutuhan yang belum terpenuhi untuk diskusi mengenai risiko genetik,” kata penulis studi, Reshma Jagsi, M.D., D.Phil., Profesor onkologi radiasi di University of Michigan Medical School.

Sekitar 5 hingga 10 persen pasien kanker payudara memiliki mutasi genetik yang diturunkan, sehingga mendorong terjadinya kanker payudara pada pasien-pasien tersebut. Banyak wanita yang melaporkan minat di dalam pengujian genetik berisiko rendah mengalami mutasi dan dokter biasanya tidak akan mendiskusikan risiko genetik dengan mereka.

“Dengan semakin berkembangnya pengetahuan dan informai, masyarakat telah menjadi jauh lebih sadar adanya tes genetik. Namun, risiko genetik merupakan sesuatu yang kompleks. Bahkan pasien yang tidak mungkin untuk mengalami peningkatan risiko genetik masih dapat mengambil manfaat dari diskusi,” kata Jagsi.

Dilansir University of Michigan Health System (06/04/2015), para peneliti mensurvei 1.536 wanita yang telah dirawat karena kanker payudara. Pasien diidentifikasi melalui database Surveillance, Epidemiology and End Results dari Detroit dan Los Angeles.

Pasien yang memiliki keinginan kuat untuk pengujian melaporkan bahwa khawatir jika anggota lain dari keluarga mereka kemungkinan mendapatkan kanker payudara di masa depan. Kekhawatiran tertinggi dimiliki wanita Latin yang hanya berbicara bahasa Spanyol, dimana 83 persen dari mereka melaporkan masalah ini.

Selain itu, para wanita tersebut lebih mungkin untuk melaporkan kekhawatiran mengenai risiko mereka sendiri, ketika dievaluasi di dalam tindak lanjut jangka panjang. Hampir setengah dari orang-orang yang memiliki kebutuhan yang belum terpenuhi untuk diskusi mengenai pengujian genetik, khawatir akan kanker payudara. Hanya seperempat dari mereka yang tidak memiliki kebutuhan yang belum terpenuhi melaporkan kekhawatiran ini.

“Dengan memenuhi risiko genetik pada pasien, kami dapat memberitahu mereka dengan lebih baik mengenai risiko yang sebenarnya tentang kembalinya kanker atau mengembangkan kanker baru. Hal ini berpotensi mengurangi kekhawatiran dan mengurangi kebingungan tentang risiko kanker,” kata Jagsi, yang juga anggota dari U-M Institute for Healthcare Policy and Innovation.

Hasil penelitian ini muncul di Journal of Clinical Oncology.

Wanita yang memiliki mutasi genetik menghadapi risiko lebih tinggi terkena kanker payudara kedua dan kemungkinan ingin mempertimbangkan pengobatan yang lebih agresif, langkah-langkah pencegahan atau skrining tambahan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here