Bhataramedia.com – Flu burung merupakan wabah penyakit yang sempat menghebohkan dunia beberapa waktu silam. Tak hanya karena jumlah korbannya yang fantastis, namun karena flu burung ini begitu cepat menyebar ke beberapa negara di dunia ini. Berbagai upaya pun dilakukan untuk mengatasi wabah penyakit flu burung ini. Dan upaya tersebut pun membuahkan hasil yakni dengan meredanya wabah penyakit flu ini. Namun keberhasilan tersebut bukan berarti harus disikapi dengan santai, akan tetapi melakukan upaya lain untuk mencegah wabah flu burung ini muncul lagi. Salah satunya dengan memberikan vaksin secara rutin kepada unggas yang merupakan hewan penyebab munculnya wabah flu burung ini.

Pemberian vaksin secara rutin kepada unggas ini sudah terbukti berhasil meminimalisasi keberadaan virus Avian Influenza pada unggas. Hal ini dibuktikan melalui penelitian yang dilakukan oleh Tim Peneliti dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM yang bekerja sama dengan para peneliti dari Australia.

Hasil penelitian yang dilakukan selama satu setengah tahun dibeberapa lokasi peternakan unggas yang ada di daerah Kabupaten Sleman, Kulonprogo dan Gunungkidul ini dipresentasikan pada Kamis (26/03) di University Club UGM. Acara presentasi hasil penelitian tersebut diberi nama “Diseminasi Hasil Riset AH/2010/039 dan Seminar Perunggasan”.

Peneliti mikrobiologi yaitu Dr. drh. Michael Haryadi Wibowo, M.P., menjelaskan bahwa riset yang dilakukan dibeberapa peternakan unggas tersebut tidak ditemukan indikasi adanya virus H5NI atau virus Avian Influenza (AI) ini. “Semua farm tidak terdeteksi AI,” jelas Haryadi seperti dikutip dari website resmi UGM (26/03/2015)

Negatifnya tanda-tanda kemunculan virus H5N1 ini dikarenakan ketatnya pelaksanaan dan pengawasan program biosekuriti, sanitasi, dan vaksinasi yang dilakukan secara rutin dan teratur pada setiap peternakan unggas yang diteliti. “Biosekuriti dan vaksinasi bisa menekan kasus AI,” tambah Haryadi.

Haryadi juga menerangkan lebih lanjut mengenai usia unggas yang ideal untuk mengikuti program vaksinasi.  “Vaksinasi AI sebenarnya dapat dilakukan pada umur 35-40 minggu agar titer HI memadai sampai usia menjelang afkir,” tutur Haryadi.

Dari hasil penelitian ini juga diperoleh kesimpulan bahwa mencegah adanya virus H5N1 ini tidak hanya terfokus pada unggas saja. Namun kebersihan peternakan bahkan telur pun harus turut diperhatikan, jika tidak bisa berpotensi sebagai tempat penularan virus H5N1 ini. “Tempat telur dan rak telur seharusnya diberi desinfektan,” pungkas Haryadi pada kesempatan tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here