Bhataramedia.com – Menurut para peneliti di Johns Hopkins University, bayi memiliki pengetahuan bawaan mengenai dunia dan ketika harapan mereka tertantang, mereka akan belajar dengan lebih baik.

Di dalam makalah yang akan diterbitkan tanggal 3 April di jurnal Science, psikolog kognitif, Aimee E. Stahl dan Lisa Feigenson menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa bayi belajar hal-hal baru dengan memanfaatkan informasi inti yang mereka bawa sejak lahir. Pada saat sesuatu mengejutkan bayi, seperti saat suatu objek tidak berperilaku seperti apa yang bayi harapkan, bayi tidak hanya berfokus pada objek itu, tetapi pada akhirnya belajar lebih banyak mengenai hal tersebut daripada objek serupa yang telah terprediksi.

“Bagi pelajar pemula, dunia adalah tempat yang sangat kompleks penuh dengan rangsangan yang dinamis. Bagaimana peserta didik dapat mengetahu apa yang harus difokuskan, mempelajari lebih lanjut mengenai sesuatu dan apa yang harus diabaikan? Penelitian kami menunjukkan bahwa bayi menggunakan apa yang mereka sudah ketahui mengenai dunia untuk membentuk prediksi. Ketika prediksi ini terbukti salah, bayi menggunakan ini sebagai kesempatan khusus untuk belajar,” kata Feigenson, seorang profesor ilmu psikologi dan otak di university’s Krieger School of Arts and Sciences. “Ketika bayi terkejut, mereka belajar lebih baik, seolah-olah mereka mengambil kesempatan itu untuk mencoba mencari sesuatu mengenai dunia mereka.”

Studi kedua peneliti tersebut melibatkan empat percobaan dengan bayi preverbal berusia 11 bulan, yang dirancang untuk menentukan apakah bayi belajar lebih efektif mengenai obyek yang menantang harapan mereka. Jika mereka melakukannya, para peneliti bertanya-tanya apakah bayi juga akan mencari informasi mengenai obyek mengejutkan tersebut dan apakah eksplorasi ini dapat berarti bayi berusaha untuk menemukan penjelasan untuk perilaku objek yang aneh.

Pertama-tama para peneliti menunjukkan bayi kedua situasi mengejutkan dan terprediksi mengenai suatu objek. Misalnya, satu kelompok bayi melihat bola bergulir dan tampak terhenti oleh dinding. Kelompok lain melihat bola bergulir dan menembus dinding.

Pada saat para peneliti memberi bayi informasi baru mengenai bola yang mengejutkan, bayi secara signifikan belajar lebih baik. Bahkan, bayi tidak menunjukkan bukti pembelajaran mengenai bola yang sudah terprediksi. Selanjutnya, para peneliti menemukan bahwa bayi memilih untuk mengeksplorasi bola yang menentang harapan mereka, bahkan melebihimainan baru yang tidaka memiliki sesuatu yang mengejutkan.

Para peneliti menemukan bahwa bayi tidak hanya belajar mengenai obyek yang mengejutkan, mereka ingin memahami mereka. Misalnya, ketika bayi melihat kejadian mengejutkan pada bola yang tampaknya melewati dinding, mereka menguji soliditas bola dengan membenturkannya di atas meja. Namun, ketika bayi melihat kejadian mengejutkan yang berbeda, dimana bola muncul dan melayang-layang di udara, mereka menguji gravitasi bola dengan menjatuhkannya ke lantai. Hasil ini menunjukkan bahwa bayi sedang menguji hipotesis spesifik mengenai perilaku objek yang mengejutkan.

“Perilaku para bayi tidak hanya berupa respon refleksif untuk kebaruan dari hasil yang mengejutkan, melainkan mencerminkan upaya lebih untuk belajar mengenai aspek-aspek dunia yang gagal agar sesuai dengan harapan,” kata Stahl, penulis utama penelitian dan seorang mahasiswa doktoral di bidang psikologis dan ilmu otak.

“Bayi tidak hanya dilengkapi dengan pengetahuan dasar mengenai aspek-aspek fundamental dari dunia, tetapi dari awal kehidupan mereka, mereka memanfaatkan pengetahuan ini untuk memberdayakan pembelajaran baru,” jelas Stahl, seperti dilansir Johns Hopkins University (02/04/2015).

Penelitian ini didukung oleh National Science Foundation Graduate Research Fellowship.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here