Bhataramedia.com – Sama seperti revolusi yang telah terjadi pada glukometer dan tes kehamilan untuk tes diagnostik di rumah, para peneliti dari Florida Atlantic University dan kolaboratornya telah mengidentifikasi platform biosensing baru yang dapat digunakan untuk deteksi jarak jauh dan menentukan pilihan pengobatan untuk HIV, E-coli, Staphylococcus aureus dan bakteri lainnya. Melalui penggunaan setetes darah dari fingerprick, platform biosensing baru ini memberikan kekhususan klinis yang relevan, sensitivitas dan deteksi patogen dari darah secara keseluruahan dan plasma.

Bahan-bahan yang fleksibel, tipis dan ringan yang dikembangkan oleh para peneliti tersebut dapat dibuat dan dioperasikan tanpa perlu infrastruktur yang mahal dan tenaga terampil, sehingga berpotensi memecahkan masalah kesehatan  di dunia nyata bagi negara maju dan berkembang. Dengan menggunakan teknologi ini, mereka juga telah mengembangkan aplikasi smart phone yang dapat mendeteksi bakteri dan penyakit di dalam darah, dengan menggunakan gambar dari smart phone yang dapat dengan mudah dianalisa dari mana saja di dunia.

Waseem Asghar, Ph.D., asisten profesor teknik elektro College of Engineering and Computer Science di Fau, rekan penulis pertama pada penelitian ini, bersama dengan Hadi Shafiee, Ph.D., instruktur bidang kedokteran Division of Biomedical Engineering di Brigham and Women’s Hospital, Harvard Medical School; Fatih Inci, Ph.D dan Utkan Demirci, Ph.D., Stanford School of Medicine, penulis senior studi ini, telah menerbitkan temuan mereka di Nature Scientific Reports di dalam artikel yang berjudul “Paper and Flexible Substrates as Materials for Biosensing Platforms to Detect Multiple Biotargets.” Anggota tim lainnya pada penelitian ini meliputi Mehmet Yuksekkaya, Ph.D.; Muntasir Jahangir; Michael H. Zhang; Naside Gozde Durmus, Ph.D .; Umut Atakan Gurkan, Ph.D., dan Daniel R. Kuritzkes, M.D.

Di dalam artikel tersebut, para peneliti mengatasi keterbatasan platform berbasis bahan yang fleksibel dan kertas yang telah ada saat ini, serta menjelaskan bagaimana mereka telah mengintegrasikan kertas selulosa dan film poliester fleksibel sebagai alat diagnostik baru untuk mendeteksi “bioagents” di dalam darah utuh, serum dan cairan peritoneal. Mereka menggunakan tiga jenis kertas yang berbeda dan platform berbasis bahan fleksibel yang berbeda, digabungkan dengan modalitas penginderaan listrik dan optik. Mereka mampu menunjukkan bagaimana bahan-bahan baru tersebut dapat diterapkan secara luas untuk berbagai pengaturan termasuk diagnostik medis dan laboratorium biologi.

Melalui penggunaan kertas dan substrat yang fleksibel sebagai bahan untuk biosensor, Asghar dan rekan-rekannya telah mengidentifikasi cara baru yang cepat dan hemat biaya untuk mendiagnosa penyakit dan memantau pengobatan. Mereka telah mampu menunjukkan bagaimana platform baru mereka secara unik mampu mengisolasi dan mendeteksi beberapa biotargets secara selektif, sensitif, dan berulang kali dari media biologis beragam yang menggunakan antibodi.

“Ada kebutuhan mendesak untuk platform biosensing yang kuat, portabel, sekali pakai dan murah untuk perawatan klinis, khususnya di negara-negara berkembang dengan sumber daya yang terbatas,” kata Asghar.

Kertas dan platform berbasis bahan fleksibel yang sudah ada, menggunakan pendekatan kolorimetri, fluorometrik dan elektrokimia yang membutuhkan langkah-langkah pelabelan kompleks untuk memperkuat sinyal yang ada, sangat mahal untuk dibuat dan juga memerlukan peralatan serta infrastruktur yang mahal.

“Masa depan diagnostik dan pemantauan kesehatan akan memiliki potensi  berbasis ponsel atau pembaca portabel dari air liur atau darah dan akam terus memantau kesehatan manusia lebih cepat dari sebelumnya,” kata Demirci, yang merupakan penulis koresponden.

Asghar mencatat bahwa karena bahan yang mereka gunakan mudah dibuat, digunakan dan dapat dengan mudah dan aman dibuang dengan dibakar, mereka menyediakan strategi menarik untuk mengembangkan alat terjangkau yang memiliki aplikasi yang luas seperti pengembangan obat, keamanan pangan, pemantauan lingkungan, kedokteran hewan dan mendiagnosis penyakit menular di negara-negara berkembang.

“Teknologi kertas microchip kami berpotensi untuk memiliki dampak yang signifikan terhadap manajemen penyakit menular di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah yang hanya memiliki prasarana laboratorium terbatas,” kata Shafiee, seperti dilansir Florida Atlantic University (02/04/2015).

Demirci mencatat bahwa platform ini berpotensi diadaptasi dan disesuaikan untuk mendeteksi patogen dan biotarget lainnya dengan menggunakan biomarker yang sudah biasa digunakan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here