Bhataramedia.com – Menurut suatu studi skala besar, kacang dapat mengurangi risiko kematian akibat penyakit jantung. Studi ini menunjukkan bahwa manfaat kesehatan dari kacang dengan harga yang relatif murah ini, kemungkinan mirip dengan pilihan yang lebih mahal seperti almond dan pistachio.

Meskipun beberapa studi sebelumnya telah mengaitkan konsumsi kacang dengan risiko yang lebih rendah dari penyakit jantung, diabetes dan tekanan darah tinggi (hipertensi). Namun, penelitian sebelumnya kebanyakan difokuskan pada orang kulit putih yang kaya di AS dan Eropa. Penelitian baru dengan populasi yang lebih etnis dan beragam ekonomi di AS dan China, menunjukkan bahwa kacang dapat menguntungkan orang-orang dari berbagai latar belakang.

“Kami sekarang dapat memberitahu orang-orang bahwa kacang  sama baiknya dengan kacang pohon yang lebih mahal. Selain itu, manfaatnya tidak hanya untuk orang putih kelas atas, tetapi untuk semua orang,” kata peneliti senior, Dr. Xiao-Ou Shu, seorang profesor epidemiologi di Vanderbilt University School of Medicine di Nashville.

Dilansir Vanderbilt University Medical Center (02/03/2015), Shu dan timnya mempelajari 71.764 orang di Amerika Serikat bagian tenggara, sebagian besar berpenghasilan rendah dan sekitar dua pertiganya terdiri dari orang Afrika-Amerika, serta 134.265 penduduk Shanghai.

Mereka telah mengamati berapa gram kacang (termasuk selai kacang) dan jenis kacang lainnya yang dimakan oleh para peserta pada hari biasa dan mengurutkannya menjadi lima kelompok, mulai dari yang rendah, kurang dari 0,95 gram, hingga ke level tertinggi, setidaknya 18,45 gram.

Kacang, yang secara teknis merupakan leguminosa, memiliki berat sekitar satu gram, dan ada sekitar 28 kacang di dalam porsi satu ons.

Para peserta dari Cina memakan kacang jauh lebih sedikit daripada orang Amerika dan di kedua negara, wanita pada umumnya makan lebih sedikit kacang daripada pria. Rata-rata konsumsi kacang setiap hari berkisar dari yang terendah, 1,6 gram untuk wanita Cina, hingga ke tinggi, 16,4 gram untuk pria kulit putih di AS bagian selatan.

Di dalam penelitian yang dilakukan di AS, setengah dari peserta dilacak selama setidaknya lima tahun. Pada kelompok Cina, setengah peserta dilacak selama enam sampai 12 tahun. Pada orang Amerika, risiko kematian akibat penyebab apa pun adalah 21 persen lebih rendah pada kelompok yang memakan kacang paling banyak, dibandingkan dengan kelompok yang memakan lebih sedikit kacang. Pada orang Cina, terjadi penurunan risiko sebesar 17 persen.

Kacang pohon dan kacang juga menurunkan risiko kematian akibat stroke dan penyakit jantung pada kedua kelompok penelitian, tetapi tidak risiko kematian akibat kanker atau diabetes.

“Selai kacang bagaimanapun juga tidak mengurangi risiko kematian, kemungkinan karena mengandung gula atau lemak terhidrogenasi, atau beberapa bahan tambahan lain yang menghilangkan manfaat kesehatan dari kacang,” kata Dr. David Maron, direktur kardiologi preventif di Stanford University School of Medicine, yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

“Selai kacang alami yang tidak memiliki bahan-bahan tambahan, kemungkinan memiliki manfaat yang sama seperti kacang utuh,” kata Maron, di dalam wawancara melalui telepon.

“Studi ini tidak secara acak membandingkan orang-orang yang memakan kacang dengan orang-orang yang tidak makan kacang, yang merupakan metode standar terbaik untuk membuktikan manfaat. Suatu studi observasional seperti ini tidak dapat membuktikan bahwa makan kacang dapat menyebabkan orang untuk hidup lebih lama. Namun, hasil penelitian ini, ditambah dengan temuan dari penelitian sebelumnya, membuat argumen untuk memasukkan kacang ke dalam diet sehat,” kata Dr. Mitchell Katz, direktur Los Angeles County Department of Health Services.

“Oleh karena sebagian besar penelitian sebelumnya dilakukan pada orang-orang dari status sosial ekonomi yang tinggi, telah ada asumsi bahwa kemungkinan orang-orang yang memakan kacang pohon juga melakukan hal-hal lain yang mungkin dapat membantu mereka hidup lebih lama, seperti berolahraga teratur atau mengikuti diet sehat,” kata Katz kepada Reuters Health melalui telepon. “Studi sebelumnya ini memberitahu kita bahwa kacang pohon memang memiliki manfaat, bukan hanya karena tipe orang yang memakan kacang pohon,” lanjut Katz.

“Pedoman diet yang menekankan makanan rendah lemak kemungkinan telah menyebabkan beberapa orang untuk menghindari kacang pohon, meskipun jenis lemak di dalam kacang pohon merupakan lemak sehat,” kata Dr. Weiss Ethan dari Cardiovascular Research Institute di University of California, San Francisco, yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

“Kita selama ini telah diberitahu untuk tidak memakan kacang pohon karena berlemak dan tinggi kalori, tetapi hal ini ternyata salah. Saat ini ternyata telah terbukti bahawa memakan kacang pohon dan kacang benar-benar baik bagi Anda,” kata Weiss melalui telepon.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here