Bhataramedia.com – 3D printing dapat menjadi alat yang ampuh di dalam menyesuaikan perawatan radiologi intervensi dengan kebutuhan pasien. Dokter akan memiliki kemampuan untuk membuat perangkat dengan ukuran dan bentuk tertentu. Hal ini berdasarkan penelitian yang dipresentasikan di Pertemuan Ilmiah Tahunan Society of Interventional Radiology. Para peneliti dan insinyur berkolaborasi untuk “mencetak” kateter, stent dan filamen yang bioaktif, sehingga memberikan perangkat-perangkat ini kemampuan untuk memberikan antibiotik dan obat-obatan kemoterapi ke daerah yang ditargetkan di dalam kultur sel.

“3D printing memungkinkan pembuatan alat dari bahan yang dibuat secara khusus untuk pengobatan pribadi,” kata Horacio R. D’Agostino, M.D., FSIR, peneliti utama dan ahli radiologi intervensi di Louisiana State University Health Sciences Center (LSUH), Shreveport.

“Teknik ini memberikan kita kemampuan untuk membangun perangkat yang memenuhi kebutuhan pasien, dari keunikan anatomi mereka untuk kebutuhan obat-obatan tertentu. Selain itu, sebagai alat di dalam radiologi intervensional, perangkat ini merupakan bagian dari pilihan pengobatan yang kurang invasif daripada operasi tradisional,” tambahnya, seperti dilansir Society Of Interventional Radiology (02/03/2015).

Melalui pengunaan teknologi 3D printing dan bioplastik resorbable, D’Agostino dan tim insinyur biomedisnya, beserta insinyur nanosistem di LSUH dan Louisiana Tech University mengembangkan filamen bioaktif, manik-manik kemoterapi, serta kateter dan stent yang mengandung antibiotik atau obat kemoterapi. Tim peneliti kemudian menguji perangkat-perangkat ini dalam kultur sel untuk melihat apakah dapat menghambat pertumbuhan bakteri dan sel-sel kanker.

Pada saat menguji kateter mengandung antibiotik yang dengan perlahan dapat melepaskan obat, tim D’Agostino menemukan bahwa perangkat ini mampu menghambat pertumbuhan bakteri. Para peneliti juga melihat bahwa filamen yang membawa agen kemoterapi mampu menghambat pertumbuhan sel kanker.

“Kami mengobati berbagai macam pasien dan perangkat dengan satu ukuran  yang cocok untuk semua, tidak sesuai pada beberapa pasien,” tambah D’Agostino. “3D printing memberikan kita kemampuan untuk merancang perangkat yang lebih cocok pada populasi pasien tertentu yang secara tradisional sulit untuk diobati, seperti anak-anak dan pasien dengan obesitas, yang memiliki anatomi berbeda. Ada potensi tak terbatas untuk dijelajahi dengan teknologi ini,” katanya.

Tim peneliti juga mampu membuat filamen, kateter dan stent biodegradable yang mengandung antibiotik dan agen kemoterapi. Jenis-jenis perangkat ini dapat membantu pasien menghindari kebutuhan untuk menjalani prosedur atau pengobatan kedua, pada saat menggunakan bahan konvensional.

D’Agostino percaya bahwa keberhasilan awal dengan instrumen 3D printing membutuhkan penelitian lebih lanjut, dengan tujuan memperoleh persetujuan untuk menggunakan perangkat-perangkat ini pada manusia. D’Agostino juga melihat kesempatan untuk berkolaborasi dengan spesialis medis lainnya untuk memberikan perawatan pribadi dengan kualitas yang lebih tinggi untuk semua jenis pasien.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here