Bhataramedia.com – Menurut para ahli, wabah Ebola yang terjadi saat ini memerlukan respon cepat secara besar-besaran pada skala global. Menulis sebuah editorial di jurnal Science, Profesor Peter Piot, rekan penemu virus Ebola, mengatakan bahwa epidemi di Afrika Barat adalah hasil dari fenomena yang melibatkan layanan disfungsional kesehatan, rendahnya kepercayaan pemerintah dan kedokteran Barat, penolakan mengenai keberadaa virus dan praktik penguburan yang tidak higienis.

Wabah yang dimulai pada Desember 2013 sekarang meliputi lima negara di Afrika Barat dan sejauh ini menewaskan hampir 2.000 orang, dengan prediksi dari WHO bahwa 20.000 orang dapat terinfeksi.

“Langkah cepat penyebaran Ebola adalah pengingat yang suram bahwa epidemi merupakan ancaman global dan bahwa satu-satunya cara untuk mengontrol virus tersebut adalah melalui respon cepat secara besar-besaran pada skala global. Respon yang dilakukan harus jauh lebih kuat daripada upaya saat ini,” tulis Profesor Piot, Direktur London School of Hygiene & Tropical Medicine.

Menurut Profesor Piot, bantuan internasional untuk upaya lokal yang sedang berkembang harus menyertakan dukungan untuk kegiatan pengendalian penyakit seperti penyediaan alat pelindung, perawatan pasien, serta menangani kesehatan, gizi, dan kebutuhan lain dari populasi di karantina.

Sekarang juga merupakan waktu yang tepat untuk mempercepat evaluasi terapi eksperimental dan vaksin. Bahkan WHO mengumumkan bahwa penggunaan terapi eksperimental etis dapat dibenarkan, bahkan jika terapi tersebut belum diujikan pada manusia. Profesor Piot berkomentar bahwa “krisis yang luar biasa memerlukan respon yang luar biasa.”

Pada artikel terpisah di Eurosurveillance, Profesor Piot dan rekannya, Dr. Adam Kucharski, mempelajari lebih dalam mengenai tantangan yang saat ini dihadapi Afrika Barat. Mereka memperingatkan bahwa pertumbuhan eksponensial di dalam jumlah membuat penelusuran dan pengawasan untuk Ebola semakin sulit, dan kasus infeksi dapat terjadi dua kali lipat setiap dua minggu jika situasinya tetap sama.

“Ketakutan dan ketidakpercayaan dari otoritas kesehatan telah memberikan kontribusi untuk masalah ini, hal ini semakin bertambah parah karena pusat isolasi juga telah mencapai kapasitas maksimal. Menciptakan potensi penularan lebih lanjut karena sejumlah besar kasus tidak diobati dan dan tidak dilaporkan, sehingga membuat sulit untuk mengukur penyebaran infeksi sebenarnya. Perlu adanya perencanaan dan pengalokasian sumber daya,” tulis Profesor Piot dan Dr. Kucharski menulis, seperti dilansir London School of Hygiene & Tropical Medicine (12/9/2014).

Mereka juga memperingatkan bahwa bukan hanya pasien Ebola saja yang terkena wabah. Di kota-kota seperti Monrovia di Liberia, infeksi telah menyebabkan penutupan sebagian besar fasilitas kesehatan, dan sebagai hasilnya, cedera dan penyakit yang tidak diobati menyebabkan semakin menambah hilangnya nyawa seseorang.

Referensi :

  1. P. Piot. Ebola’s perfect storm. Science, 2014; 345 (6202): 1221 DOI: 10.1126/science.1260695.
  2. A J Kucharski, P Piot. Containing Ebola virus infection in West Africa. Eurosurveillance, Volume 19, Issue 36, 11 September 2014. [link]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here