Bhataramedia.com – Media sosial telah membuka suatu dunia digital yang baru untuk penelitian psikologi. Empat peneliti akan membahas metode baru mengenai analisis bahasa dan bagaimana media sosial dapat dimanfaatkan untuk mempelajari kepribadian, kesehatan mental dan fisik, serta perbedaan lintas budaya. Para pembicara akan mempresentasikan penelitian mereka selama simposium “Finding Psychological Signal in a Billion Tweets: Measurement Through the Language of Social Media,” pada Konvensi Tahunan ke-16 Society for Personality and Social Psychology (SPSP) di Long Beach, California.

Berkolaborasi dengan para ilmuwan komputer

Para peneliti telah lama mengukur pikiran, perasaan dan kepribadian orang dengan menggunakan survei pertanyaan. Meluasnya penggunaan Twitter dan Facebook telah memberikan pendekatan baru untuk penelitian ilmu sosial. Hal ini membutuhkan teknik-teknik baru untuk menganalisis dan menginterpretasikan data menggunakan metode ilmu komputer. Teknik ini memungkinkan peneliti untuk mampu menghasilkan wawasan dari kumpulan data skala besar.

“Kolaborasi antara psikolog dan ilmuwan komputer dapat menghasilkan kajian dan wawasan yang tidak akan mungkin disusun secara independen oleh para peneliti dari masing-masing bidang,” kata Andy Schwartz dari University of Pennsylvania.

Suatu studi yang menggunakan analisis kosakata terbuka telah menemukan variasi yang mencolok di dalam bahasa yang berhubungan dengan kepribadian, jenis kelamin dan usia. Kata dan frase tertentu dapat memberikan wawasan baru dan rinci. Misalnya, pria lebih sering menggunakan kata posesif ‘saya’ ketika menyebutkan ‘istri’ atau ‘pacar’, daripada wanita yang menggunakan ‘saya’ untuk menyebutkan ‘suami’ atau ‘pacar’. Analisis kosakata terbuka dapat menemukan koneksi yang tak terduga dan sering tidak ditangkap dengan teknik analisis lainnya.

“Teknik Data-driven sebagian besar terbatas pada menemukan korelasi bukan sebab-akibat. Analisis masa depan bergerak melampaui kata-kata untuk menangkap makna yang kurang jelas dari bahasa,” jelas pemimpin peneliti, Andy Schwartz. Kolaborasi antara psikolog sosial dan kepribadian, serta ilmuwan komputer, akan menjadi bagian integral untuk memajukan penelitian tersebut.

Menilai kepribadian menggunakan Facebook

Para peneliti telah menemukan bahwa kata-kata yang digunakan di Facebook merupakan indikator kepribadian yang secara mengejutkan dapat diandalkan. Hasil penelitian mereka dipublikasikan di Journal of Personality and Social Psychology. Para peneliti menggunakan algoritma prediksi bahasa untuk membuat penilaian kepribadian skala besar yang efisien. Model otomatis berbasis bahasa terhadap sifat, menunjukkan hasil yang konsisten dengan pengukuran kepribadian peserta yang dilaporkan sendiri.

Penulis utama, Gregory Park, menegaskan akurasi model berbasis bahasa tersebut: “Kami mengevaluasi metode di dalam beberapa cara. Prediksi dari metode otomatis secara akurat dapat memprediksi skor yang diterima pengguna pada tes kepribadian. Skor tersebut konsisten dengan penilaian kepribadian yang dibuat oleh teman-teman ‘nyata’ pengguna dan hasil-kepribadian lain yang terkait, seperti jumlah teman, atau sikap politik yang dilaporkan sendiri.”

Studi lain yang dipublikasikan di jurnal Assessment, telah menganalisa status Facebook peserta penelitian dengan menggunakan analisis bahasa terbuka. Para peneliti telah menganalisis kata-kata yang secara visual menggambarkan beberapa ciri-ciri kepribadian (extraversion, keramahan, hati nurani, kestabilan emosi dan keterbukaan) muncul di Facebook.

Studi tersebut menemukan bahwa frase tertentu dapat memprediksi ciri kepribadian tertentu. Misalnya, orang yang mendapat skor tinggi di dalam neurotisme pada penilaian kepribadian yang dilaporkan sendiri lebih cenderung menggunakan kata-kata seperti kesedihan, kesepian, ketakutan dan rasa sakit. Menganalisis data ini dapat memberikan koneksi baru yang kemungkinan tidak terlihat di dalam kuesioner tertulis dan survei tradisional.

Melacak kesehatan masyarakat melalui Twitter

Di dalam suatu penelitian yang baru-baru ini diterbitkan di jurnal Psychological Science, peneliti membandingkan tweet dan penyakit jantung di tingkat kabupaten. Studi ini menemukan bahwa analisis bahasa dapat memprediksi risiko penyakit jantung sama baiknya atau lebih baik dari faktor risiko epidemiologi tradisional.

“Bahasa yang berhubungan dengan kemarahan, emosi negatif, permusuhan dan perpecahan di dalam masyarakat dikaitkan dengan peningkatan tingkat penyakit jantung,” jelas penulis utama, Johannes Eichstaedt, “Bahasa mengekspresikan emosi positif dan keterlibatan dikaitkan dengan penurunan risiko,” lanjut dia.

Para pengguna Twitter tidak selalu individu yang berisiko untuk penyakit jantung, melainkan, mereka dapat berfungsi sebagai pemberi informasi bagi masyarakat dengan risiko penyakit jantung yang lebih tinggi. Tweet dapat mewakili keseluruhan perasaan negatif di dalam masyarakat, serta menunjukkan tekanan sosial dan lingkungan yang berkontribusi terhadap peningkatan risiko penyakit jantung.

Hasil penelitian menggambarkan bahwa Twitter berfungsi sebagai prediktor kesehatan yang akurat dan faktor risiko dari suatu komunitas. Eichstaedt dan rekan-rekannya kini menganalisis kata-kata dan frase di Twitter untuk melacak depresi dan kecemasan di seluruh populasi.

Variasi budaya di dalam bahasa

Media sosial memungkinkan para peneliti untuk meneliti persamaan dan perbedaan antar budaya pada tingkat yang baru. Penelitian lintas budaya biasanya membutuhkan analisis kualitatif yang intensif dengan sejumlah kecil orang. Margaret Kern dari University of Melbourne dan Maarten Sap dari University of Pennsylvania menggunakan Twitter untuk mempelajari variasi di dalam penggunaan bahasa lintas budaya.

Melalui penggunaan analisis bahasa yang berbeda para peneliti memeriksa posting Twitter dari delapan negara (Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Australia, India, Singapura, Meksiko dan Spanyol) dan dua bahasa (Inggris dan Spanyol).

Para peneliti menemukan bahwa ada banyak kesamaan di seluruh negara, berupa penggunaan emoticon dan seniman pop idola yang berhubungan dengan emosi positif dan kata-kata umpatan, serta agresi yang berhubungan dengan emosi negatif,. Ada juga perbedaan yang mengarah ke korelasi budaya khusus untuk ekspresi emosional. Hasil dari penelitian ini masih awal dan belum dipublikasikan.

“Tantangan bagi kita adalah untuk memahami bagaimana menginterpretasikan perbedaan yang kita lihat-itu benar-benar suatu perbedaan atau hanya noise. Di masa depan, kami berharap untuk bekerja secara langsung dengan orang-orang dari masing-masing budaya untuk membantu kami menafsirkan dan memahami hasil,” jelas pemimpin peneliti, Margaret Kern, seperti dilansir Society for Personality and Social Psychology (28/02/2015).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here