Bhataramedia.com – Menurut penelitian baru dari University of Waterloo, orang yang rendah diri lebih mungkin untuk mengalami hubungan yang tidak bahagia.

Penderita rendah diri cenderung tidak menyuarakan keluhan hubungan dengan pasangan mereka karena mereka takut ditolak.

“Ada persepsi bahwa orang-orang dengan penghargaan diri yang rendah cenderung lebih negatif dan mengeluh lebih banyak,” kata Megan McCarthy, penulis studi dan seorang kandidat Ph.D. di Departemen Psikologi.

“Sementara hal ini kemungkinan dapat terjadi di beberapa situasi sosial, penelitian kami menunjukkan bahwa di dalam hubungan romantis, pasangan yang rendah diri menolak untuk mengatasi masalah,” tutur dia.

Penelitian ini penting untuk memahami bagaimana keintiman komunikasi antar pasangan dapat membantu meningkatkan kehidupan percintaan dari orang-orang di seluruh dunia.

“Jika pasangan Anda tidak terlibat di dalam percakapan yang terbuka dan jujur mengenai hubungan, tidak mungkin mereka tidak peduli, melainkan mereka merasa tidak aman dan takut disakiti,” kata McCarthy.

Di dalam penelitiannya yang memfokuskan pada komunikasi intim pasangan, McCarthy menguji dampak pada hubungan ketika salah satu pasangan menderita rendah diri. “Kami telah menemukan bahwa orang-orang dengan konsep diri yang negatif sering memiliki keraguan dan kecemasan mengenai sejauh mana orang lain peduli tentang mereka,” katanya. “Hal ini dapat mendorong orang yang rendah diri untuk bersikap defensif, perilaku melindungi diri, seperti menghindari konfrontasi.”

Penelitian ini dipresentasikan pekan ini di California pada Pertemuan Tahunan ke-16  Society for Personality and Social Psychology’s 16th Annual Meeting.

Penelitian ini menunjukkan bahwa hambatan bagi orang yang rendah diri untuk mengatasi masalah kemungkinan berasal dari rasa takut akan hasil yang negatif. Penderita kemungkinan percaya bahwa mereka tidak dapat berbicara tanpa risiko penolakan dari pasangan dan kerusakan pada hubungan mereka, sehingga menghasilkan ketidakpuasan secara keseluruhan yang lebih besar di dalam hubungan.

“Kita mungkin berpikir bahwa dengan diam, seperti memaafkan dan melupakan, merupakan sesuatu yang konstruktif dan tentu saja dapat digunakan ketika kita merasakan gangguan kecil,” kata McCarthy. “Tetapi ketika kita memiliki masalah serius di dalam suatu hubungan, gagal untuk mengatasi masalah yang terjadi dapat benar-benar menjadi destruktif,” lanjut dia.

Dilansir University of Waterloo (27/02/2015), McCarthy bersama dengan rekan penelitiannya, memiliki rencana untuk studi kedua yang akan melihat bagaimana meningkatkan arti mengenai kekuasaan atau pengaruh di dalam suatu hubungan dapat mendorong pengungkapan yang lebih terbuka.

“Kita semua tahu bahwa hubungan dekat kadang-kadang dapat menjadi sulit.Isu utamanya adalah bagaimana kita memilih untuk berurusan dengan permasalahan ketika kita merasa tidak puas dengan pasangan,” kata McCarthy.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here