Bhataramedia.com – Peristiwa letusan Gunung Tambora pada tahun 1815 ini tertulis dalam sejarah dunia. Hal ini dikarenakan begitu hebatnya letusan Gunung Tambora ini yang membuat wilayah Amerika dan Eropa tidak mendapatkan musim panas. Belum lagi, fantastisnya jumlah korban yang diakibatkan oleh letusan gunung yang terletak di pulau Sumbawa ini menjadi catatan kelam di dalam sejarah. Disamping itu, terdapat pula dampak mengeringkan yang ditimbulkan dari meletusnya Gunung Tambora, seperti wabah penyakit dan kelaparan yang merajalela.

Akan tetapi, siapa sangka jika letusan Gunung Tambora ini menjadi inspirasi bagi seorang penyair bernama George Gordon Byron atau yang lebih dikenal dengan nama Lord Byron untuk menuliskan sebuah sajak yang indah. Sajak milik Lord Byron yang berasal dari Inggris ini diberi judul “Darkness”. Inti dari sajak ini yakni mengenai dampak yang ditimbulkan dari letusan Gunung Tambora yang begitu dahsyat. Peristiwa letusan Gunung Tambora ini mampu disampaikan oleh Byron melalui larik demi larik sajak yang begitu indah. Berikut ini penggalan sajak “Darkness” karya Lord Byron seperti yang dikutip dari Kompas.com (25/02/12015).

“I had a dream which was not all a dream.”

(Saya punya mimpi yang tak sepenuhnya mimpi).

“The bright sun was extinguished, and the stars did wander darkling in the eternal space. Rayless, and pathless, and the icy earth swung blind and blackening in the moonless air. Morn came and went—and came, and brought no day.”

(Matahari yang terang itu padam, dan bintang-bintang menggelap di angkasa yang abadi. Tanpa cahaya, tanpa jalan, dan Bumi yang beku membuta dan menghitam dalam langit tak berbulan. Pagi datang dan pergi dan datang lagi, tanpa membawa hari).

Bukan hanya karya sastra dari Lord Byron saja yang terinspirasi dari peristiwa letusan Gunung Tambora. Terdapat juga karya sastra lain yang tercipta pada masa-masa letusan Gunung Tambora ini. Seperti novel horror berjudul Frankenstein yang di tulis oleh Mary Shelley. Novel yang satu ini bahkan sudah diadaptasi dalam bentuk cerita film.

“Tambora di satu pihak menghancurkan kebudayaan, tetapi di pihak lain juga memunculkan kebudayaan,” tutur Adjat Sudrajat Profesor Geologi yang berusaha menjelaskan fenomena lahirnya karya sastra pada masa letusan Gunung Tambora.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here