Bhataramedia.com – Pada pertemuan Food and Drug Administration (FDA) (17/9/2014), Endocrine Society membahas populasi yang sesuai untuk terapi pengganti testosteron dan potensi kardiovaskular yang buruk berkaitan dengan penggunaannya.

Meskipun penggunaan testosteron telah meningkat tajam di antara pria yang lebih tua pada dekade terakhir, Endocrine Society mengatakan kepada FDA bahwa terapi testosteron harus dibatasi pada pria yang memenuhi pedoman diagnostik untuk hipogonadisme.

Testosteron adalah hormon seks laki-laki kunci yang terlibat dalam menjaga gairah seks, produksi sperma dan kesehatan tulang. Karena kadar testosteron cenderung menurun secara alami usia pria, tingkat yang lebih rendah dari hormon tidak selalu berarti bahwa seseorang memiliki hipogonadisme, yaitu suatu kondisi yang dihasilkan dari rendahnya testosteron. Manifestasi klinis hipogonadisme dapat mencakup libido yang menurun, disfungsi ereksi, pembesaran payudara dan infertilitas.

Mewakili Endocrine Society, Ronald Swerdloff, MD, profesor di David Geffen School of Medicine, UCLA, mengatakan bahwa pengobatan testosteron harus dibatasi pada pria yang memiliki manifestasi klinis hipogonadisme dan kadar testosteron yang rendah secara konsisten.

“Endocrine Society juga merekomendasikan bahwa lebih banyak data yang dikumpulkan dari pria pada berbagai usia untuk lebih membangun ambang batas penggunaan serum testosteron untuk gejala dan tanda-tandanya yang berhubungan dengan organ tertentu, dan untuk menentukan manifestasi klinis; akan mendapatkan keuntungan dari terapi testosteron pengganti,” kata Swerdloff, seperti dilansir Endocrine Society (17/9/2014).

Endocrine Society selanjutnya menyarankan agar studi skala besar yang terkendali dengan baik dapat dilakukan untuk menilai risiko jangka panjang kardiovaskular dan prostat yang berhubungan dengan pengobatan pengganti testosteron.

Dr. Swerdloff adalah seorang penulis pedoman praktek klinis di Endocrine Society. Laporannya yang berjudul “Testosterone Therapy in Adult Men with Androgen Deficiency Syndromes” ini dapat ditemukan secara online di link tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here