Bhataramedia.com – Para ilmuwan dari CNRS, INSERM dan Université de Limoges, yang bekerja di Laboratoire Contrôle de la Réponse Immune B et Lymphoproliférations (CNRS / Université de Limoges) [1] telah menunjukkan bahwa produksi imunoglobulin tipe E (IgE) [2] oleh B limfosit menginduksi hilangnya mobilitas dan inisiasi mekanisme kematian sel.

Antibodi yang ada di dalam jumlah kecil tersebut, merupakan “senjata” yang paling kuat di dalam sistem kekebalan tubuh dan dapat memicu reaksi kekebalan yang sangat tinggi atau alergi secara langsung (asma, urtikaria, syok akibat alergi) segera setelah kadarnya meningkat, bahkan di dalam jumlah yang sedikit. Temuan ini dipublikasikan secara online di Cell Reports pada 12 Februari 2015 dan menjelaskan bagaimana tubuh kita membatasi produksi IgE untuk mencegah reaksi alergi.

Dilansir CNRS (13/02/2015), imunitas didasarkan pada sel-sel (limfosit B) yang membawa atau mengeluarkan “senjata” antibakteri atau antivirus, berupa imunoglobulin (IgG, IgM, IgA, IgE) atau antibodi. Meskipun senjata-senjata kekebalan ini menawarkan perlindungan, kadang-kadang juga dapat menyerang kita. Kasus ini dapat terjadi pada antibodi yang paling efektif, IgE, dimana dengan kadar yang sangat kecil (IgE 100.000 kali lebih rendah kadarnya dibandingkan antibodi lainnya) dapat memicu reaksi alergi yang sangat parah.

Limfosit yang memproduksi IgM, IgG atau IgA banyak, mudah diidentifikasi dan persisten. Untuk alasan yang sampai sekarang tidak dapat dijelaskan, sel-sel yang memproduksi IgE sangat langka dan dengan demikian sedikit studi yang mempelajarinya.

Agar dapat memahami mekanisme pengendalian IgE, para ilmuwan pertama-tama menggunakan teknik rekayasa genetika untuk memaksa sel-sel menghasilkan antibodi ini di dalam jumlah besar. Mereka kemudian berhasil menunjukkan dua mekanisme kontrol utama. Mereka menunjukkan bahwa segera setelah limfosit B membawa IgE pada membrannya, limfosit B menjadi “beku”, membengkak, kehilangan pseudopodianya [3] dan menjadi tidak mampu bergerak, meskipun limfosit pada umumnya sangat mobile.

Para ilmuwan juga mengungkapkan bahwa limfosit mengaktifkan beberapa mekanisme yang mengarah ke apoptosis, atau kematian sel terprogram. Proses penghancuran diri ini menyebabkan penghapusan secara cepat limfosit yang membawa IgE, sedangkan sel-sel lainnya di dalam sistem kekebalan mampu bertahan hingga beberapa tahun.

Selama proses evolusi, tubuh kita telah sedemikian rupa mengembangkan beberapa mekanisme pembatasan diri di sekitar salah satu elemen kekebalan tubuh yang paling kuat, IgE. Oleh karena sel yang membawa IgE tidak dapat lagi bergerak, sel ini hanya dapat bertahan untuk jangka waktu singkat, hanya cukup lama untuk memainkan peran protektif singkat terhadap parasit, toksin dan racun. Sel ini kemudian menghancurkan dirinya sendiri dengan melakukan semacam “hara-kiri”, sehingga sangat mengurangi produksi IgE dan mengurangi terjadinya alergi.

Para ilmuwan saat ini ingin menjelajahi secara lebih rinci jalur molekuler berbeda yang mengatur mekanisme pembatasan tersebut. Memang, hal ini kemungkinan merupakan beberapa target terapi baru untuk memblokir alergi, atau bahkan memungkinkan pengurangan limfosit B patologis lainnya, seperti yang terlibat di dalam limfoma.

[1] Bekerja sama dengan para ahli imunologi dari Laboratoire Microenvironnement et Cancer (INSERM/Université de Rennes 1).

[2] Imunoglobulin, atau antibodi, adalah protein yang disekresi oleh jenis limfosit B sebagai reaksi terhadap masuknya zat asing (antigen) ke dalam organisme.

[3] Deformasi dari membran yang memungkinkan sel untuk makan dan “bergerak”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here