Bhataramedia.com – Menurut para peneliti dari University of British Columbia, menggunakan Twitter dapat membantu dokter lebih siap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pasien mereka,.

Studi tersebut dipresentasikan hari ini pada pertemuan tahunan American Association for the Advancement of Science (AAAS) 2015. Studi ini menemukan lebih banyak dan lebih profesional perawatan kesehatan yang merangkul media sosial. Temuan ini menyanggah pendapat umum bahwa dokter enggan untuk menggunakan media sosial.

“Banyak orang mencari informasi kesehatan secara online, tetapi masih sedikit penelitian yang dilakukan mengenai siapa yang berpartisipasi di dalam diskusi kesehatan atau persoalan kesehatan apa yang sedang dibagikan,” kata Julie Robillard, pemimpin penulis dan profesor neurologi di National Core for Neuroethics and Djavad Mowafaghian Centre for Brain Health, UBC.

Robillard dan mahasiswa psikologi, Emanuel Cabral, menghabiskan enam bulan untuk memantau percakapan seputar penelitian sel punca yang terkait dengan cedera tulang belakang dan penyakit Parkinson di Twitter. Mereka menemukan sekitar 25 persen dari tweets mengenai cedera tulang belakang dan 15 persen dari tweets mengenai penyakit Parkinson yang berasal dari profesional kesehatan.

Studi ini menemukan bahwa sebagian besar tweet mengenai temuan penelitian, terutama yang dianggap sebagai terobosan medis. Konten yang paling banyak dibagikan adalah link untuk laporan penelitian.

Studi ini juga menemukan bahwa pengguna yang mentweet mengenai cedera tulang belakang dan penyakit Parkinson berbeda. Pengguna yang mentweet mengenai cedera tulang belakang berbicara mengenai uji klinis, sedangkan pengguna yang mentweet mengenai penyakit Parkinson sebagian besar berbicara mengenai alat-alat baru atau metode yang dikembangkan untuk melakukan penelitian.

Kurang dari lima persen dari tweet tersebut berbicara mengenai penelitian sel punca (stem cell) dan hal ini mengejutkan para peneliti.

“Kami berharap untuk melihat perdebatan mengenai kontroversi sel punca, tetapi orang-orang lebih banyak berbagi ide mengenai harapan dan ekspetasi melebihi apa pun,” kata Robillard, seperti dilansir University of British Columbia (14/02/2015).

Robillard percaya media sosial dapat membantu dokter menjadi lebih sadar mengenai apa yang dibaca pasien mereka di luar media tradisional. Hal ini dapat membantu harapan pasien mengenai perawatan yang potensial.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here