Bhataramedia.com – Sebuah tim arkeolog dan peneliti lainnya berharap bahwa kuburan kuno di Italia dapat menghasilkan petunjuk mengenai bakteri mematikan yang menyebabkan kolera.

Para peneliti menggali kuburan di sekitar gereja Badia Pozzeveri yang terbengkalai di daerah Tuscany Italia.

Situs tersebut berisi korban epidemi kolera yang melanda dunia di tahun 1850-an, kata Clark Spencer Larsen, profesor antropologi di Ohio State University dan salah satu pemimpin tim penggalian.

Para arkeolog dan siswa mereka telah menghabiskan empat musim panas untuk menggali sisa-sisa di bagian khusus dari pemakaman yang digunakan untuk korban kolera.

Menemukan jejak patogen yang menyebabkan kolera di antara sisa-sisa manusia dapat mengungkapkan rincian mengenai bagaimana kehidupan dan akhir hayat orang-orang di wilayah Eropa tersebut.

“Sepengetahuan kami, ini adalah sisa-sisa korban kolera yang terawetkan dengan baik yang pernah ditemukan dari periode waktu tersebut. Kami sangat gembira mengenai kemungkinan yang dapat kita pelajari,” kata Larsen.

Larsen telah membahas proyek tersebut pada 15 Februari di pertemuan tahunan American Association for the Advancement of Science di San Jose.

Mayat korban kolera buru-buru dikuburkan dan dilapisi dengan kapur, yang akan mengeras seperti beton di sekitar tubuh. Para peneliti menduga warga pada masa tersebut berusaha untuk menjaga penyebaran penyakit.

“Kapur yang digunakan untuk membungkus mayat-mayat tersebut juga cukup menakjubkan untuk menjaga tulang tetap awet,” kata Larsen.

Bukan hanya tulang yang diawetkan, kapur tersebut juga menjebak tanah di sekitar tubuh yang berisi DNA kuno dari bakteri dan organisme lain yang hidup pada manusia yang dimakamkan di sana.

Salah satu rekan Larsen, Hendrik Poinar, seorang profesor di McMaster University di Hamilton, Kanada, adalah seorang ahli di dalam DNA kuno dan dia memindai sampel tanah untuk DNA dari Vibrio cholerae, bakteri yang menyebabkan kolera.

“Kami belum menemukannya, tetapi kami memiliki harapan yang tinggi. Kami telah menemukan DNA lain yang terkait dengan manusia sehingga kita akan terus melanjutkan pencarian,” kata Larsen.

“Jika kami menemukan DNA tersebut, kami dapat kita bisa melihat bagaimana kolera telah berkembang dan membandingkannya dengan bakteri kolera yang ada saat ini. Itulah langkah pertama untuk kemungkinan menemukan obat,” lanjut Larsen.

Situs tersebut tidak hanya menyediakan sekedar informasi mengenai wabah kolera. Sebuah biara didirikan pada situs tersebut pada tahun 1056 dan setelah itu ditinggalkan pada 1408 dan gereja masih tetap berdiri sampai sekitar 50 tahun yang lalu. Beberapa kuburan yang berbeda dari periode waktu yang berbeda mengelilingi reruntuhan.

“Kami memiliki jendela pada masa seribu tahun yang lalu dari desa tersebut. Ini adalah mikrokosmos dari apa yang terjadi di Italia dan seluruh Eropa selama waktu tersebut,” kata Larsen.

Di dalam pemakaman tersebut juga termasuk orang-orang yang meninggal karena pandemi ‘Black Death’ yang melanda Eropa dari tahun 1346-1353. Banyak orang lainnya yang meninggal karena penyebab yang kurang dramatis, namun masih menarik bagi para peneliti.

“Apa yang kami coba lakukan adalah untuk merekonstruksi populasi ini seolah-olah mereka hidup, untuk mendapatkan sekilas mengenai seperti apa kehidupan mereka sehari-haari, kesehatan mereka, serta bagaimana mereka meninggal,” ungkap Larsen, seperti dilansir Ohio State University (15/02/2015).

Proyek ini dimulai pada 2010 ketika masyarakat setempat, Ohio State dan University of Pisa bergabung untuk mempelajari situs tersebut.

Mereka mendirikan The Field School in Medieval Archaeology and Bioarchaeology di Badia Pozzeveri. Saat ini merupakan program akademik yang bertujuan untuk melatih siswa di dalam bidang arkeologi dan bioarkeologi, serta metode laboratorium.

Sekitar 20 sampai 30 kerangka telah digali selama masing-masing empat musim lapangan terakhir, kata Larsen.

Rekan penulis dari presentasinya adalah Giuseppe Vercellotti, seorang profesor di Ohio State dan Gino Fornaciari, seorang profesor di University of Pisa di Italia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here