Bhataramedia.com – Menurut studi yang baru-baru ini diselesaikan di University of Eastern Finland, wanita berusia 60-70 tahun yang puas dengan kehidupan mereka memiliki kepadatan tulang yang lebih tinggi. Mereka juga lebih jarang menderita osteoporosis dibandungkan rekan-rekan mereka yang tidak puas akan kehidupannya.

Osteoporosis merupakan penyakit yang umum, penyakit ini mudah menyebabkan patah tulang dan patah tulang pinggul pada khususnya, serta dapat memiliki konsekuensi yang serius. Kepadatan tulang akan lebih rendah seiring bertambahnya usia seseorang. Namun, bagi wanita, menopause merupakan faktor risiko yang signifikan. Faktor risiko osteoporosis lainnya meliputi rendahnya tingkat aktivitas fisik, komposisi tubuh yang ringan, merokok, rendah asupan kalsium dan vitamin D, serta beberapa obat-obatan dan kondisi medis. Misalnya,  stres jangka panjang yang terkait dengan depresi dapat memiliki efek merugikan pada metabolisme dan pada akhirnya akan mempengaruhi kesehatan tulang. Perilaku kesehatan orang yang mengalami depresi juga dapat meningkatkan risiko osteoporosis, karena orang-orang yang depresi lebih mungkin untuk merokok dan sedikit berolahraga.

Dilansir University of Eastern Finland (13/01/2015), kesejahteraan subjektif merupakan indikator yang luas dari kesehatan mental dan depresi pada khususnya. Di dalam studi ini, kepuasan hidup digunakan untuk mengukur kesejahteraan subjektif. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah kepuasan hidup juga berhubungan dengan kesehatan tulang.

Data di dalam penelitian ini diperoleh dari studi Kuopio Osteoporosis Risk Factor and Prevention (OSTPRE), yang telah menyelidiki efek dari berbagai risiko dan faktor protektif pada kepadatan tulang dan patah tulang sejak tahun 1989. Para peserta studi menanggapi surat survei dan mengambil bagian di dalam pengukuran kepadatan tulang.

Penelitian yang dilakukan baru-baru ini melibatkan 2.167 wanita yang menjalani pengukuran kepadatan tulang pada tahun 1999 dan dari semua wanita yang terlibat, 1.147 wanita mengambil bagian di dalam pengukuran tindak lanjut sepuluh tahun kemudian pada tahun 2009. Kepuasan hidup dinilai dengan empat pertanyaan yang berkaitan dengan minat, kemudahan hidup, kebahagiaan dan kesepian dari para peserta. Berdasarkan jawaban, peserta studi dibagi menjadi tiga kelompok; kelompok yang puas, kelompok menengah dan kelompok yang tidak puas. Penelitian ini difokuskan pada kemungkinan efek depresi dan faktor lainnya pada kesehatan tulang.

Selama 10 tahun masa tindak lanjut, kepadatan tulang semua peserta studi melemah dengan rata-rata sebesar 4%. Namun, perbedaan antara kelompok yang puas dengan kehidupannya dan tidak puas adalah sebanyak 52%. Perubahan kepuasan hidup selama 10 tahun masa tindak lanjut juga mempengaruhi kepadatan tulang. Pada orang yang kepuasan hidupnya memburuk, kepadatan tulang melemah sebesar 85% dibandingkan dengan orang-orang yang kepuasan hidupnya meningkat.

Oleh karena itu, kepuasan hidup merupakan sumber daya penting dan indikator kesejahteraan. Kepuasan hidup telah dikaitkan dengan kesehatan dan ketidakpuasan hidup merupakan prediktor ketidakmampuan untuk bekerja, sakit dan kematian. Menurut penelitian ini, hal ini juga terkait dengan kesehatan tulang, karena kepuasan hidup yang baik mengurangi osteoporosis yang disebabkan penambahan usia.

Para peneliti studi mengatakan bahwa mendorong kepuasan hidup dan jiwa yang baik pada orang tua adalah sama pentingnya dengan mendorong gaya hidup sehat. Faktor-faktor individual untuk memelihara dan meningkatkan kepuasan hidup juga memiliki efek menguntungkan pada kesehatan tulang.

Studi ini merupakan bagian dari proyek Ph.D. peneliti Paivi Rauma, MPharm, yang berfokus pada efek depresi, antidepresan dan kepuasan hidup pada kesehatan tulang.

Penemuan ini dipublikasikan di Psychosomatic Medicine.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here