Bhataramedia.com –┬áPara peneliti di University of Illinois di Chicago telah menemukan mekanisme molekuler baru yang mengencangkan ikatan antara sel-sel yang melapisi pembuluh darah untuk membentuk penghalang anti bocor. Mekanisme ini menyajikan target baru yang potensial untuk mengobati sindrom gangguan pernapasan akut / acute respiratory distress syndrome (ARDS), kondisi kebocoran cairan dari pembuluh darah ke paru-paru yang sering berakibat fatal.

Peneliti UIC yang dipimpin oleh Asrar Malik menemukan bahwa mereka dapat memicu mekanisme pengencangan sel pada tikus dengan menggunakan molekul kecil yang disebut Fg4497. Tikus yang terpapar agen infeksi yang menyebabkan cairan masuk ke paru-paru memiliki tingkat bertahan hidup yang lebih tinggi dan akumulasi cairan yang lebih sedikit, daripada tikus yang tidak diobati dengan senyawa Fg4497.

Temuan ini dilaporkan di Journal of Clinical Investigation.

ARDS berakibat fatal pada sekitar setengah dari semua kasus. Pengobatan standar yang saat ini digunakan untuk mengatasi ARDS adalah perawatan suportif, seperti ventilasi buatan. Beberapa jenis terapi berhasil membalikkan kebocoran cairan yang terjadi.

“Di dalam ARDS, respon imun tubuh kita sendiri menjadi masalah besar,” kata Dr. Jalees Rehman, profesor farmakologi dan obat-obatan di UIC College of Medicine dan salah satu penulis utama studi tersebut.

“Sebagai bagian dari tubuh yang normal, respon kekebalan tubuh yang sehat akan merespon terhadap infeksi. Penghalang yang dibentuk oleh sel-sel pembuluh darah akan mengendur sementara, sehingga memungkinkan sel-sel darah putih untuk keluar dari aliran darah untuk menyerang invasi bakteri atau virus,” kata Rehman.

Namun,di dalam kasus pneumonia berat atau infeksi aliran darah tertentu, penghalang tidak dikembalikan dengan baik, katanya. Kebocoran persisten terutama sangat bermasalah di paru-paru. Pasien dengan ARDS sering ditempatkan pada ventilator buatan dan diberikan oksigen tambahan.

“ARDS merupakan lingkaran setan peradangan dan kebocoran pembuluh darah di paru-paru yang sangat sulit untuk dikontrol. Seolah-olah, paru-paru tenggelam di dalam cairannya sendiri. Jika kami dapat mencegah hal ini dengan menstabilkan dan memulihkan integritas penghalang pembuluh darah, kami dapat membantu menyelamatkan nyawa,” jelas Rehman, seperti dilansir University of Illinois at Chicago (10/01/2015).

Rehman dan rekan-rekannya mempelajari mekanisme yang mengatur kontak antar sel yang disebut adherens junction. Mereka mengetahui bahwa molekul yang disebut VE-PTP, merupakan molekul penting untuk menstabilkan adherens junction.

Di dalam percobaan laboratorium dengan menggunakan sel-sel pembuluh darah paru-paru manusia, para peneliti menemukan bahwa kondisi rendah oksigen menginduksi ekspresi gen regulator yang sensitif oksigen, HIF2alpha, yang pada gilirannya meningkatkan tingkat VE-PTP.

Tikus percobaan yang kekurangan HIF2alpha memiliki tingkat VE-PTP yang jauh lebih rendah dan memiliki pembuluh darah yang lebih bocor, bila dibandingkan dengan tikus yang dapat membuat HIF2alpha.

Mereka menemukan bahwa jika tikus yang terkena infeksi diberi obat yang meniru efek rendah oksigen, kadar HIF2alpha dan VE-PTP meningkat dan pembuluh darah tikus menjadi berkurang kebocorannya. Tikus-tikus yang diberi obat memiliki tingkat yang secara signifikan lebih tinggi untuk bertahan hidup dan memiliki lebih sedikit cairan di paru-parunya, daripada tikus yang tidak diberi obat.

“Masuk akal bahwa kondisi rendah oksigen akan mendorong rangkaian peristiwa molekuler yang menyebabkan pengetatan penghalang,” kata Rehman.

“Tampaknya, sel-sel pembuluh darah memiliki cara sendiri untuk mengetatkan penghalang ketika berada di dalam situasi stres oksigen yang rendah. Pada saat paru-paru mulai terisi dengan cairan, darah menjadi kekurangan oksigen dan sel-sel yang melapisi pembuluh darah bereaksi dengan mengencangkan adherens junction. Namun, kemampuan alami untuk mengencangkan penghalang di dalam menanggapi kondisi rendah oksigen kemungkinan tidak terjadi cukup cepat pada pasien yang mengalami ARDS,” jelas Rehman.

“Studi kami saat ini dilakukan pada tikus, tetapi kami berharap bahwa suatu hari kami akan dapat mengambil keuntungan dari respon alami tubuh terhadap kadar oksigen darah yang rendah melalui obat yang meniru kondisi rendah oksigen. Obat ini dapat diberikan kepada pasien yang berisiko tinggi dan mudah-mudahan mencegah pembentukan ARDS dengan mengaktifkan mekanisme pengetatan pelindung internal,” pungkas Rehman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here