Bhataramedia.com – Virus flu biasa dapat memperbanyak dirinya dengan lebih efisien di dalam suhu lebih dingin yang ditemukan di dalam hidung dibandingkan dengan suhu inti tubuh. Hal ini berdasarkan penelitian terbaru yang dipimpin Universitas Yale. Temuan ini dapat mengkonfirmasi gagasan populer yang masih diperdebatkan bahwa orang lebih cenderung untuk mengalami flu saat cuaca dingin.

Para peneliti telah lama mengetahui bahwa penyebab flu yang paling sering, yaitu rhinovirus, bereplikasi lebih mudah di dalam lingkungan yang sedikit lebih dingin di dalam rongga hidung daripada di paru-paru yang memiliki suhu lebih hangat. Namun, penelitian sebelumnya terfokus mengenai bagaimana suhu tubuh mempengaruhi virus, kata penulis senior studi dan profesor Immunobiology di Yale, Akiko Iwasaki.

Agar dapat menyelidiki hubungan antara suhu dan respon imun, Iwasaki dan tim peneliti interdisipliner di Yale yang dipelopori oleh Ellen Foxman, postdoctoral fellow di lab Iwasaki, meneliti sel-sel yang diambil dari saluran udara tikus. Mereka membandingkan respon imun terhadap rhinovirus ketika sel-sel diinkubasi pada suhu 37 derajat Celcius (suhu inti tubuh) dan pada suhu yang lebih dingin, 33 derajat Celcius. “Kami menemukan bahwa respon sistem imun bawaan  terhadap rhinovirus, terganggu pada suhu tubuh yang lebih rendah dibandingkan dengan suhu inti tubuh,” kata Iwasaki, seperti dilansir Yale University (05/01/2014).

Penelitian ini juga menyarankan bahwa suhu yang bervariasi mempengaruhi respon imun daripada virus itu sendiri. Para peneliti mengamati replikasi virus di dalam sel saluran napas dari tikus dengan defisiensi genetik pada sensor sistem kekebalan tubuh yang mendeteksi virus dan respon antivirus. Mereka menemukan bahwa dengan adanya defisiensi imun, virus ini mampu mereplikasi pada suhu yang lebih tinggi. “Hal ini membuktikan virus bukan merupakan kontributor utama, tetapi respon dari inang (host) yang merupakan kontributor utama,” jelas Iwasaki.

Meskipun penelitian ini dilakukan pada sel-sel tikus, penelitian ini menawarkan petunjuk yang dapat menguntungkan bagi manusia, termasuk sekitar 20% dari kita yang menjadi tuan rumah (di hidung) bagi rhinovirus pada waktu tertentu. “Secara umum, semakin rendah suhu, tampaknya semakin rendah respon imun bawaan terhadap virus,” kata Iwasaki. Dengan kata lain, penelitian ini dapat memberikan penegasan bahwa seseorang harus tetap hangat dan bahkan menutup hidung mereka untuk menghindari terserang pilek.

Para peneliti Yale juga berharap untuk menerapkan wawasan tersebut kepada bagaimana suhu mempengaruhi respon imun terhadap kondisi lain, seperti asma pada anak. Foxman mencatat bahwa sementara flu biasa tidak lebih dari sebuah gangguan bagi banyak orang, flu dapat menyebabkan masalah pernapasan berat bagi anak-anak penderita asma. Penelitian di masa depan kemungkinan akan menyelidiki respon imun terhadap asma yang diinduksi oleh rhinovirus.

Studi ini dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here