Bhataramedia.com – Tim peneliti internasional yang dipimpin oleh University of Pittsburgh Cancer Institute (UPCI), yang bermitra dengan UPMC CancerCenter, telah menemukan cara potensial untuk meningkatkan kemampuan tubuh untuk merasakan dan menghambat infeksi virus, yaitu dengan cara meningkatkan protein yang secara alami ada di dalam sel-sel kita. Penelitian ini didukung oleh National Institutes of Health.

Penemuan berbasis laboratorium ini diharapkan dapat mengarah pada pengobatan yang lebih efektif untuk mengatasi infeksi virus, mulai dari virus hepatitis C hingga virus flu.

Studi ini diterbitkan di edisi ke-19 jurnal Immunity pada juni 2014.

“Meskipun saat ini telah ada kemajuan yang luar biasa pada bidang vaksinasi dan pengobatan, namun penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus tetap menjadi salah satu penyebab utama kematian di seluruh dunia,” kata penulis senior Saumendra N. Sarkar, Ph.D., asisten profesor mikrobiologi dan genetika molekuler di UPCI. “Kita perlu membuat pertahanan baru terhadap infeksi virus, dan penemuan kami ini membuktikan bahwa ada cara yang menjanjikan untuk eksplorasi lebih lanjut terhadap hal tersebut.” Tambahnya, seperti dirilis laman University of Pittsburgh Schools of the Health Sciences (12/6/2014).

Dr. Sarkar dan timnya membuat penemuan ini ketika sedang menyelidiki protein yang disebut oligoadenylate synthetases-like, atau OASL. Protein ini muncul dan jumlahnya mengalami peningkatan pada orang pengidap kanker hati yang disebabkan oleh virus hepatitis C.

Virus hepatitis C, influenza, RSV (penyakit pernapasan masa kanak-kanak), dan banyak virus lain yang dikenal sebagai virus asam ribonukleat (RNA). Virus RNA adalah virus yang menggunakan RNA sebagai materi genetik ketika virus tersebut melakukan replikasi. Protein OASL dapat meningkatkan kemampuan sel tubuh untuk mendeteksi virus RNA dengan cara mengaktifkan sistem kekebalan tubuh untuk merasakan keberadaan virus dan menghambat replikasinya.

Pada tes laboratorium, meningkatkan jumlah protein ini di dalam sel manusia mampu menghambat replikasi virus secara efektif. Sebaliknya, tikus yang tidak memiliki OASL akan jauh lebih rentan terhadap infeksi virus.

Temuan ini sangat penting karena dapat menawarkan alternatif untuk menggantikan peran interferon. Interferon adalah jenis lain dari protein yang dibuat dan dirilis oleh sel tubuh dalam rangka menanggapi aktivitas virus. Interferon digunakan untuk terapi terhadap beberapa infeksi virus, termasuk hepatitis C, namun tidak efektif untuk virus RNA lainnya, seperti influenza. Terapi interferon juga memiliki efek samping yang besar, dan tidak semua pasien merespon dengan baik terhadap pengobatan menggunakan interferon.

Dr. Sarkar dan timnya berencana menentukan cara yang paling efisien untuk meningkatkan jalur produksi OASL pada pasien. Dia juga bekerja sama dengan pulmonologis untuk mengevaluasi pengaruh peningkatan OASL pada orang pengidap infeksi paru-paru.

“Sistem pernapasan merupakan target yang jauh lebih mudah bagi aplikasi berbagai jenis terapi, jika dibandingkan dengan organ lain, seperti hati, jadi kita akan memulai terapi ini pada infeksi seperti RSV,” kata Dr. Sarkar. “Setelah itu, kita dapat melakukan terapi ke ke virus RNA lainnya dan kami berharap dapat menemukan cara yang efektif untuk meningkatkan kekebalan tubuh alami kita terhadap berbagai infeksi virus.” Pungkas Dr. Sarkar.

Referensi Jurnal :

Jianzhong Zhu, Yugen Zhang, Arundhati Ghosh, Rolando A. Cuevas, Adriana Forero, Jayeeta Dhar, Mikkel Søes Ibsen, Jonathan Leo Schmid-Burgk, Tobias Schmidt, Madhavi K. Ganapathiraju, Takashi Fujita, Rune Hartmann, Sailen Barik, Veit Hornung, Carolyn B. Coyne, Saumendra N. Sarkar. Antiviral Activity of Human OASL Protein Is Mediated by Enhancing Signaling of the RIG-I RNA Sensor. Immunity, 2014; DOI: 10.1016/j.immuni.2014.05.007.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here