Bhataramedia.com – Mengukur variabilitas denyut jantung dapat mengidentifikasi risiko pengembangan necrotizing enterocolitis pada bayi prematur. Necrotizing enterocolitis adalah kondisi peradangan serius yang dapat menyebabkan kematian. Hal ini berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari Penn State College of Medicine.

“Saat ini, NEC didiagnosis dengan kombinasi tes laboratorium dan radiologi, biasanya tes tersebut dilakukan ketika penyakit ini sudah mencapai tingkat yang parah,” kata Kim Doheny, direktur di clinical research in newborn medicine dan asisten profesor di bidang pediatrik.

“NEC berlangsung begitu cepat dan gejala-gejala yang timbul terjadi secara tiba-tiba, biomarker non-invasif yang memungkinkan deteksi dini pasien yang berisiko sangat diperlukan sebagai hal yang mendesak,” lanjut Doheny.

Denyut jantung berfluktuasi di dalam interval antar denyutan. Kontributor dari fluktuasi ini diukur melalui analisis matematis. Salah satu kontributor yang mempengaruhi hal tersebut adalah sistem saraf parasimpatis (sistem saraf yang mengontrol respon pencernaan dan mengatur organ selama istirahat) dan diukur melalui pengukuran distribusi energi frekuensi tinggi. Para peneliti mempelajari 70 bayi yang lahir pada 28 hingga 35 minggu selama 5-8 hari pertama kehidupan. Bayi-bayi tersebut memiliki kondisi yang stabil dana tanpa tanda-tanda adanya penyakit.

Para peneliti kemudian mengukur variabilitas denyut jantung pada bayi untuk menguji apakah pengukuran komponen variabilitas denyut jantung frekuensi tinggi dapat digunakan sebagai cara untuk memprediksi risiko NEC pada bayi sebelum penyakit tersebut muncul. Mereka melaporkan hasil penelitian ini di Neurogastroenterology & Motility.

Dari 70 bayi yang diteliti, sembilan bayi mengalami penurunan variabilitas denyut jantung frekuensi tinggi. Hal ini menunjukkan penurunan aktivitas sistem saraf parasimpatis. Dari semua bayi dengan penurunan variabilitas denyut jantung, 50 persen di antaranya mengembangkan penyakit NEC. Sebaliknya, 98 persen dari bayi dengan nilai variabilitas denyut jantung frekuensi tinggi yang lebih tinggi tidak menderita NEC.

“Hal ini menunjukkan bahwa pengukuran variabilitas denyut jantung frekuensi selama masa kritis di awal kehidupan dapat digunakan untuk mengidentifikasi risiko NEC yang tidak memiliki gejala-gejala yang jelas. Sehingga, intervensi untuk meningkatkan aktivitas sistem saraf parasimpatis dapat diberikan sedini mungkin,” kata R. Alberto Travagli, seorang profesor di bidang ilmu saraf dan perilaku.

“Metode yang relatif sederhana, ekonomis, dan non-invasif ini menawarkan kesempatan untuk memantau bayi yang memiliki risiko mengembangkan NEC dan untuk menguji efektivitas pengobatan NEC yang sudah ada,” tambah Travagli, seperti dilansir dari Eurekalert (12/6/2014).

Para peneliti mengatakan bahwa penelitian yang akan dilakukan di masa mendatang harus mencakup sampel yang lebih besar dan juga mencakup pengukuran peradangan pada saat variabilitas denyut jantung diukur.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here