Bhataramedia.com – Di dalam mencari jawaban mengapa kita tidur, penelitian yang dilakukan di Mexican Metropolitan Autonomous University (UAM) mengungkapkan bahwa kekurangan tidur kronis dapat menyebabkan munculnya molekul neurotoksik tertentu. Molekul neurotoksik tersebut biasanya beredar di dalam darah untuk diangkut ke sistem saraf pusat, sehingga dapat mengganggu fungsi neuron atau saraf.

Beatriz Gómez González, profesor dan peneliti di UAM dan kepala dari proyek ilmiah ini, menjelaskan bahwa fenomena ini muncul karena adanya perubahan di dalam sistem saraf pusat yang disebut blood-brain barrier. Blood-brain barrier merupakan komponen yang bertanggung jawab untuk melindungi otak dari agen yang memiliki potensi neurotoksik.

Melalui percobaan pada beberapa hewan yang diinduksi agar mengalami kurang tidur, spesialis di UAM dan stafnya membenarkan bahwa semakin lama periode insomnia, pembuluh darah di dalam blood-brain barrier mulai menurun. “Pembuluh darah yang ditemukan tidak bersatu begitu erat, kami mengamati bahwa pada kondisi ini, beberapa elemen dapat melewati penghalang tersebut dan mencapai jaringan otak,” jelas peneliti, seperti dilansir dari Alphagalileo (10/6/2014).

Setelah masuk ke otak, beberapa agen saraf dapat berpotensi mempengaruhi fungsi saraf dan bahkan mempromosikan kematian neuron. Misalnya, agen yang disebut monosodium glutamat (MSG) yang ditemukan di dalam berbagai makanan olahan dapat menyebabkan kerusakan saraf akibat sel-sel saraf mengalami overaktivasi (eksitotoksisitas). MSG hanya sebagai contoh saja dan masih banyak agen neurotoksik lainnya yang beredar di dalam darah.

Selain itu, kelompok penelitian di UAM juga mempelajari risiko yang dapat timbul sebagai akibat dari pemberian beberapa obat untuk peningkatan permeabilitas blood-brain barrier yang disebabkan oleh kekurangan tidur kronis. Gómez González mengatakan, berdasarkan beberapa penelitian, kami telah mengkonfirmasi bahwa beberapa antihistamin generasi kedua dapat menembus ke dalam jaringan otak ketika fenomena ini terjadi.

“Meskipun produsen obat antibiotik atau antihistamin generasi kedua memastikan bahwa obat-obatan tersebut tidak mempengaruhi fungsi otak, sudah ada bukti bahwa obat-obatan tersebut dapat berdampak pada sistem saraf pusat jika ada peningkatan permeabilitas pada blood-brain barrier,” kata peneliti. Fenomena ini dapat menyebabkan beberapa efek, seperti eksitotoksisitas yang tidak diinginkan di dalam neuron, mengantuk, perubahan perilaku dan bahkan kematian saraf.

Fenomena lain yang dilaporkan oleh para peneliti di UAM yang berhubungan dengan kekurangan tidur kronis adalah peningkatan jumlah vesikel pinositotik di dalam sel. Hal ini berhubungan dengan lipatan tertentu dari elemen sel dan senyawa-senyawa yang ditemukan di dalam aliran darah. Fenomena ini dapat meningkatkan risiko elemen neurotoksik memasuki jaringan otak. “Hewan-hewan yang telah diinduksi untuk mengalami kesulitan tidur mengembangkan jumlah vesikel pinositotik hingga tiga kali lipat dibandingkan dengan hewan di dalam kondisi normal,” jelas González.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here