Bhataramedia.com – Studi terbaru yang dilakukan NOAA menyatakan bahwa empat jenis pestisida nyamuk yang paling umum digunakan di sepanjang pantai timur dan Gulf, AS, menunjukkan bahwa ada sedikit ancaman bagi juvenil kerang bercangkang keras dan tiram.

Namun, penelitian yang diterbitkan pada jurnal online Archives of Environmental Contamination and Toxicology , juga menyatakan bahwa kadar oksigen rendah di dalam air, yang dikenal sebagai hipoksia, dan peningkatan pengasaman, benar-benar meningkatkan toksisitas pestisida terdapat di perairan tersebut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa variabel iklim sepertinya harus dipertimbangkan ketika hendak menggunakan pestisida ini di zona pesisir.

“Apa yang kami temukan adalah bahwa larva tiram dan kerang bercangkang keras dapat mentoleransi tingkat rendah konsentrasi pestisida, tetapi hewan ini lebih sensitif terhadap pestisida jika ekosistemnya mengalami tekanan akibat iklim lokal, seperti hipoksia dan pengasaman,” kata penulis utama studi tersebut, Marie DeLorenzo, Ph.D., kepala program fisiologi dan mikrobiologi lingkungan NOAA dan NOAA’s Centers for Coastal Ocean Science. “Mudah-mudahan data ini akan menguntungkan bagi budidaya kerang dan lembaga sumber daya lingkungan karena merekalah yang mengelola penggunaan pestisida untuk pengendalian nyamuk di dekat ekosistem pesisir mereka.”

Budidaya kerang secara komersial memiliki dampak ekonomi nasional yang besar. NOAA memperkirakan bahwa tiram AS dan keras kerang untuk tahun 2010, masing-masing bernilai hampir $ 118.000.000 dan $ 41 juta. Pembudidaya kerang, bagaimanapun juga, khawatir bahwa penyemprotan pestisida di dekat garis pantai dapat mencemari tambak budidaya dan sumber air. Hal ini diperparah oleh kurangnya data toksisitas insektisida nyamuk untuk kerang ini.

Secara ekologis dan ekonomis, spesies yang mendiami habitat rawa pasang surut di sepanjang garis pantai Atlantik , AS dan Teluk Meksiko sangat penting. Kerang dan tiram juga penting bagi ekosistem pesisir karena hewan ini menyaring air, meningkatkan kualitas air, dan berfungsi sebagai habitat dan sumber makanan bagi spesies muara lainnya.

Sekitar 200 spesies nyamuk hidup di Amerika Serikat. Selain menyebabkan benjolan gatal yang menyakitkan bagi manusia, gigitan nyamuk dapat menularkan penyakit serius seperti malaria, demam berdarah, dan virus West Nile. Salah satu pendekatan untuk mengendalikan nyamuk adalah menerapkan pestisida dengan penyemprotan dari pesawat atau truk pada area yang luas. Namun, untuk mengendalikan nyamuk secara efektif, pestisida harus menargetkan spesies yang hidup di habitat perairan, padahal perairan ini juga menjadi rumah bagi spesies muara yang sensitif terhadap toksisitas. Hal ini dapat berisiko bagi lingkungan pesisir. Selain itu, karena banyaknya komunitas perumahan yang berdekatan dengan habitat perairan pesisir ini, maka potensi overspray secara langsung maupun tidak disengaja yang hanyut ke perairan tersebut akan meningkat.

Penelitian ini berusaha untuk mengatasi kurangnya data toksisitas terhadap efek pestisida pengendali nyamuk terhadap tahap awal kehidupan kerang. Tim peneliti menganalisis toksisitas dari empat pestisida nyamuk kontrol (naled, resmethrin, permethrin, dan methoprene) terhadap siklus hidup tahap larva dan juvenil kerang bercangkang keras (Mercenaria mercenaria ) dan tiram Timur (Crassostrea virginica).

Ambang mematikan ditentukan untuk empat pestisida tersebut, dan perbedaan sensitivitas yang ditemukan antara bahan kimia, spesies, dan tahap kehidupan akan diuji lebih lanjut. Secara keseluruhan, kerang lebih rentan terhadap pestisida pengendali nyamuk, dibandingkan tiram. Naled, bahan kimia organofosfat, adalah senyawa yang paling toksik terhadap larva tiram, sementara resmethrin merupakan senyawa yang paling beracun terhadap larva kerang. Penurunan aktivitas berenang pada larva tiram diketahui setelah empat hari dari toksisitas dan penurunan pertumbuhan ditemukan pada juvenil kerang dan tiram setelah 21 hari dari toksisitas.

Melalui penilaian terhadap bahaya toksisitas pestisida, yang membandingkan ambang toksisitas terhadap konsentrasi yang diharapkan di lingkungan, para peneliti menghitung tingkat rendah risiko untuk kerang dan tiram dari aplikasi pestisida ini untuk pengendalian nyamuk.

Para peneliti juga menguji toksisitas pestisida di bawah kondisi lingkungan yang mengalami tekanan akibat iklim. Kondisi iklim yang lebih ekstrem ternyata menyebabkan peningkatan toksisitas pestisida.

Studi ini tidak meneliti dampak pestisida pada kerang-kerangan lain seperti udang atau lobster.

Referensi Jurnal :

R. N. Garcia, K. W. Chung, P. B. Key, L. E. Burnett, L. D. Coen, M. E. DeLorenzo. Interactive Effects of Mosquito Control Insecticide Toxicity, Hypoxia, and Increased Carbon Dioxide on Larval and Juvenile Eastern Oysters and Hard Clams. Archives of Environmental Contamination and Toxicology, 2014; 66 (3): 450 DOI: 10.1007/s00244-014-0002-1.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here