Bhataramedia.com – Setiap spesies pohon memiliki identitas bakteri sendiri. Itulah kesimpulan dari peneliti University of Oregon dan rekan-rekannya dari lembaga lain yang mempelajari sidik jari genetik bakteri pada 57 jenis pohon yang tumbuh di pulau Panama.

“Studi ini menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa tanaman inang dari famili tanaman yang berbeda dan dengan strategi ekologi yang berbeda memiliki komunitas mikroba yang sangat berbeda pula pada daunnya,” kata pemimpin penulis Steven W. Kembel, mantan peneliti postdoctoral di UO’s Institute of Ecology and Evolutioni yang kini menjadi profesor ilmu biologi di University of Quebec di Montreal, seperti dilansir EurekAlert! (15/6/2014).

Penelitian ini diterbitkan pekan ini di Edisi Awal online dari Proceedings of the National Academy of Sciences.

Para peneliti mengumpulkan sampel bakteri dari 57 hingga lebih dari 450 jenis pohon yang tumbuh di hutan tropis dataran rendah di Barro Colorado Island, Panama.

Menggunakan teknologi sequencing DNA dan bertempat di UO’s Genomics Core Facility, para ilmuwan men-sequencing gen RNA ribosomal 16S bakteri yang diisolasi dari sampel.

“Gen tersebut, yang disebut para ahli biologi sebagai gen barcode, memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi dan mengukur keragaman bakteri berdasarkan jutaan fragmen DNA yang dihasilkan dari komunitas bakteri yang dikumpulkan dari permukaan daun,” kata Jessica Green, seorang profesor di UO dan Santa Fe Institute.

“Beberapa bakteri ada yang sangat berlimpah dan hadir pada setiap daun di hutan, sementara yang lainnya langka dan hanya ditemukan pada daun spesies host (inang),” kata Kembel.

“Setiap jenis pohon memiliki komunitas unik bakteri pada daunnya. Pada bidang mikrobiologi, daun tanaman yang dianggap sebagai habitat bakteri dikenal sebagai filosfer. Filosfer adalah tuan rumah bagi jutaan bakteri. Bakteri ini dapat memiliki efek penting, baik positif maupun negatif, pada kesehatan dan fungsi tanaman inang. Sebagai contoh, sementara beberapa bakteri pada daun menyebabkan penyakit, bakteri lainnya dapat melindungi tanaman melawan patogen atau memproduksi hormon yang meningkatkan tingkat pertumbuhan tanaman.” Tambahnya.

Pada bidang mikrobioma hewan, para peneliti mencatat bahwa studi yang membandingkan sejumlah besar spesies telah menunjukkan bahwa diet inang, misalnya, herbivora dibandingkan karnivora, memiliki dampak yang besar pada struktur komunitas mikroba dalam usus mereka. Kembel dan Green mengatakan bahwa studi barunya ini memberikan pemahaman yang sebanding tentang atribut host yang nantinya dapat menjelaskan pola keragaman mikroba dalam microbioma tanaman.

“Kami menemukan bahwa kelimpahan beberapa taksa bakteri berkorelasi dengan pertumbuhan, mortalitas, dan fungsi inang,” kata Kembel.

Hal ini juga termasuk bakteri yang terlibat dalam memfiksasi nitrogen dan konsumsi metana, serta bakteri yang terkait dengan tanah dan air.

Bakteri yang mendominasi komunitas adalah mikrobioma inti termasuk taksa Actinobacteria , Alpha-, Beta dan gamma -Proteobacteria dan Sphingobacteria. Pada beberapa jenis bakteri, peneliti menemukan bahwa bakteri tersebut lebih berlimpah ketika tumbuh pada daun jenis pohon cepat tumbuh atau tumbuhnya lambat, atau pada daun dengan konsentrasi yang berbeda elemennya seperti nitrogen atau fosfor.

“Karena pentingnya mikrobioma untuk pertumbuhan dan fungsi inang, maka memahami faktor-faktor yang mempengaruhi bakteri pada daun pohon yang berbeda dapat memiliki implikasi penting bagi kemampuan kita untuk membuat model dan melestarikan keanekaragaman hayati dan fungsi ekosistem,” kata Kembel.

“Pada akhirnya, kami berharap bahwa memahami faktor-faktor yang menjelaskan variasi dalam kelimpahan bakteri di seluruh spesies host akan membantu kita secara lebih baik untuk mengelola keanekaragaman hayati di hutan dan kesehatan dan fungsi dari ekosistem hutan.” Pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here