Bhataramedia.com – Peneliti di University of Cincinnati (UC) telah menemukan terapi yang membalikkan diabetes tipe 1 pada tikus percobaan dan dapat meningkatkan upaya di dalam memerangi penyakit tersebut di antara manusia.

Penelitian yang dipimpin oleh William Ridgway, MD ini, dipresentasikan hari Sabtu 14 Juni 2014, di Sesi Ilmiah ke-74 American Diabetes Association di San Francisco.

Menurut American Diabetes Association, diabetes tipe 1 biasanya didiagnosis pada anak-anak dan orang dewasa muda. Penyakit tersebut mempengaruhi sekitar 5 persen dari semua penderita diabetes. Pada diabetes tipe 1, tubuh tidak memproduksi insulin (pusat metabolisme glukosa) yang cukup. Tanpa insulin, glukosa darah akan meningkat.

Tidak ada obat untuk diabetes tipe 1 meskipun penyakit ini dapat dikontrol dengan terapi insulin. Gejala penyakit diabetes tipe 1 termasuk sering buang air kecil, rasa haus yang berlebihan dan penurunan berat badan meskipun anda makan lebih banyak.

Para peneliti mengatakan kejadian diabetes tipe 1 dan autoimunitas pada umumnya telah meningkat pesat sejak pertengahan abad ke-20. Hal tersebut kemungkunan merupakan hasil dari stimulasi sistem imun bawaan yang memicu autoimunitas pada anak-anak dan orang dewasa muda. Pada diabetes tipe 1, autoimunitas menyebabkan sel T di dalam tubuh menyerang sel-sel beta yang memproduksi insulin.

Sebelumnya, telah dilaporkan bahwa tikus diabetes non obesitas memiliki cacat pada sel-sel kekebalan tubuh bawaan dan TLR4 (toll-like receptor 4) memainkan peran protektif di dalam mencegah diabetes tipe 1.

Mark A. Brown, Profesor dan Direktur division of immunology, allergy and rheumatology di UC, mengatakan bahwa tim penelitinya menggunakan suatu antibodi monoklonal agonistik (UT18) untuk meningkatkan aktivitas TLR4 dan membalikkan proses terjadinya diabetes pada tikus non obesitas.

“Kami telah menunjukkan bahwa dengan menggunakan antibodi untuk merangsang molekul tertentu di dalam sistem kekebalan tubuh bawaan, kami dapat membalikkan proses pada tikus yang telah mengembangkan gejala diabetes dengan tingkat keberhasilan yang tinggi. Penyebab proses pembalikan ini adalah proses “pelestarian” sel-sel beta pankreas endokrin yang memproduksi insulin. Sel-sel ini dilindungi dari serangan autoimun yang merupakan ciri khas dari diabetes tipe 1,” kata Ridgway, seperti dilansir University of Cincinnati (14/6/2014).

“Faktor kunci untuk membalikkan diabetes tipe 1 pada tikus adalah mencegah penyakit tersebut pada saat akan terjadi. Biasanya penyakit diabetes tipe 1 terjadi di dalam waktu yang sangat singkat. Waktu kejadian yang dibutuhkan pada manusia kemungkinan lebih lama, tetapi waktu dari perkembangan tahap awal hingga stadium akhir diabetes tipe 1 masih relatif singkat,” lanjut Ridgway.

Ridgway mengatakan bahwa pendekatan ini berbeda dengan kebanyakan pendekatan di dalam memerangi diabetes tipe 1. Terapi yang dilakukan Ridgway dan timnya pada tikus tidak langsung berinteraksi dengan sel Tl. Dia mengatakan bahwa pengobatan autoimunitas telah sering diarahkan pada penekanan respon kekebalan yang terlalu aktif dengan menghilangkan sel T.

“Kami menargetkan bagian yang berbeda dari sistem kekebalan tubuh,” kata Ridgway. “Ada dua bagian dari sistem kekebalan tubuh, sistem kekebalan adaptif dan sistem kekebalan tubuh bawaan. Pada dasarnya, sel T dan sel B ada di dalam sistem kekebalan adaptif anda dan mereka menanggapi banyak antigen yang berbeda. Sistem kekebalan tubuh bawaan cenderung memiliki respon stereotipikal. Kami menargetkan reseptor yang terutama ditemukan pada sel-sel imun bawaan, seperti sel-sel dendritik,” tambah dia.

“Jalur molekuler TLR4 pada tikus beroperasi hampir sama dengan jalur TLR4 pada manusia. Meskipun ada beberapa perbedaan, ada kemungkinan jalur baru yang menargetkan sistem kekebalan tubuh ini dapat diuji pada manusia,” kata Ridgway.

“Penelitian lanjutan masih diperlukan, tetapi terapi baru ini dapat berpotensi untuk memerangi diabetes tipe 1 karena salah satu agen agonistik anti-TLR4 sudah disetujui oleh FDA dan agen-agen agonistik lainnya saat ini sedang dikembangkan,” pungkas Ridgway.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here