Bhataramedia.com – Asupan kafein oleh anak-anak dan remaja telah meningkat selama beberapa dekade, karena naiknya popularitas minuman soda berkafein dan minuman energi. Minuman tersebut saat ini sudah dipasarkan kepada anak-anak. Meskipun demikian, hanya ada sedikit penelitian mengenai pengaruh kafein pada anak-anak.

Salah satu peneliti yang melakukan investigasi mengenai tersebut adalah Jennifer Temple, Ph.D., profesor di Department of Exercise and Nutrition Sciences, University at Buffalo School of Public Health and Health Professions.

Studi baru yang dilakukan Jennifer menemukan bahwa setelah pubertas, anak laki-laki dan wanita mengalami perubahan denyut jantung dan tekanan darah yang berbeda setelah mengkonsumsi kafein. Anak wanita juga mengalami beberapa perbedaan selama siklus menstruasi mereka akibat pengaruh kafein.

Studi yang berjudul “Cardiovascular Responses to Caffeine by Gender and Pubertal Stage” ini, akan dipublikasikan secara online di jurnal Pediatrics edisi 16 juni 2014.

Studi sebelumnya yang dilakukan oleh tim peneliti, telah menunjukkan bahwa kafein meningkatkan tekanan darah dan menurunkan denyut jantung pada anak-anak, remaja dan orang dewasa, termasuk anak laki-laki dan wanita pra remaja.

Berdasarkan hasil dari penelitian sebelumnya, penelitian baru ini bertujuan untuk mengetahui apakah perbedaan jenis kelamin mempengaruhi respon kardiovaskular terhadap kafein yang muncul setelah pubertas dan apakah respon-respon tersebut mengalami perbedaan di berbagai fase siklus menstruasi.

“Kami menemukan adanya interaksi antara gender dan dosis kafein. Anak laki-laki memiliki respon yang lebih besar terhadap kafein dibandingkan anak perempuan. Selain itu, ada interaksi antara fase pubertas, jenis kelamin dan dosis kafein dengan perbedaan jenis kelamin pada peserta paska pubertas,” kata Jennifer, seperti dilansir University at Buffalo (16/6/2014).

“Kami telah menemukan perbedaan di seluruh siklus menstruasi akibat respon terhadap kafein pada anak wanita paska pubertas. Terjadi penurunan denyut jantung yang lebih besar pada fase mid-luteal dan peningkatan tekanan darah yang lebih besar pada fase mid-follicular dari siklus menstruasi. Di dalam studi ini, kami sedang mencari pengaruh fisik tertentu akibat konsumsi konsumsi,” lanjut Jennifer.

Fase yang terjadi di dalam siklus menstruasi adalah  :

a. Fase folikuler : fase yang dimulai pada hari pertama menstruasi dan berakhir dengan ovulasi
b. Fase luteal : terjadi setelah ovulasi dan ditandai dengan tingkat progesteron yang lebih tinggi daripada fase sebelumnya.

“Penelitian di masa depan mengenai pengaruh kafein terhadap anak-anak akan menentukan sejauh mana perbedaan jenis kelamin dimediasi oleh faktor fisiologis seperti tingkat hormon steroid atau oleh perbedaan pola penggunaan kafein,” ungkap Jennifer.

Studi ini didanai oleh hibah dari National Institute on Drug Abuse dari National Institutes of Health. Studi ini memeriksa denyut jantung dan tekanan darah sebelum dan setelah pemberian plasebo dan dua dosis kafein (1 dan 2 mg / kg) pada saat masa pra pubertas (8-9 tahun, n = 52) dan paska pubertas (15 -17 tahun, n = 49) anak laki-laki (n = 54) dan wanita (n = 47).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here