Beranda Science Metode Baru Hasilkan Pemanis (Erythritol) Dari Jerami Dibantu Fungi Trichoderma reesei

Metode Baru Hasilkan Pemanis (Erythritol) Dari Jerami Dibantu Fungi Trichoderma reesei

1689
Berbagai macam strain Trichoderma. (Credit: Image courtesy of Vienna University of Technology, TU Vienna)
Berbagai macam strain Trichoderma. (Credit: Image courtesy of Vienna University of Technology, TU Vienna)

Bhataramedia.com – Erythritol, pemanis bebas kalori, secara luas telah digunakan di Asia. Pemanis ini juga mendapatkan popularitas di Eropa dan Amerika. Di Vienna University of Technology, sebuah metode murah dan baru telah dikembangkan untuk menghasilkan erythritol dari jerami dengan bantuan fungi kapang (filamentous fungi).

Erythritol memiliki banyak manfaat, yaitu tidak membuat Anda menjadi gemuk, tidak menyebabkan kerusakan gigi, tidak memiliki efek pada gula darah dan, tidak seperti pemanis lainnya, yaitu tidak memiliki efek pencahar. Di Asia, pemanis ini sudah banyak digunakan dan secara umum telah menjadi bagian dari berbagai pemanis yang digunakan di banyak negara. Sampai sekarang, erythritol hanya bisa diproduksi dengan bantuan dari yeast jenis khusus menggunakan molase yang sangat terkonsentrasi. Di TU Vienna, metode pembuatannya telah dikembangkan untuk menghasilkan pemanis dari jerami biasa dengan bantuan fungi kapang. Percobaan ini telah sukses besar, dan sekarang prosedurnya akan dioptimalkan untuk industri.

Dari Gula ke Erythritol Menjadi Jerami ke Erythritol

Jerami sering dianggap tidak berharga dan biasanya dibakar, namun material ini dapat menjadi sumber daya alam yang berharga. Beberapa komponen kimia penyusunnya dapat dibuat menjadi produk berharga. Langkah pertama adalah jerami halus harus dipecah-pecah dengan bantuan pelarut, supaya dinding selnya rusak dan ligninnya terbuang. Sisanya xylan dan selulosa kemudian diproses lebih lanjut.

“Biasanya jerami harus diperlakukan dengan enzim mahal untuk memecahnya menjadi gula,” kata Profesor Robert Mach (Vienna University of Technology). “Pada molase sangat terkonsentrasi, strain yeast khusus dapat mengubah gula menjadi erythritol, jika prosesnya ditempatkan di bawah tekanan osmotik yang ekstrim.”

Fungi Kapang Memungkinkan Tahap Lanjutan Dari Proses Lama

Enzim untuk memecah jerami dapat diperoleh dengan bantuan fungi Trichoderma reesei. Jenis fungi ini juga memainkan peran utama pada proses produksi baru yang dikembangkan di Vienna University of Technology.

Dua keuntungan besar telah dicapai melalui modifikasi genetik terhadap fungi. Sebelumnya, proses untuk memperoleh enzim dari kultur fungi dan cara memisahkannya secara kimia sangat sulit dilakukan. Sekarang, strain khusus ini dapat langsung diterapkan pada jerami. Kedua, mould (kapang) ini dapat menghasilkan erythritol langsung dari jerami. Proses perantara untuk memproduksi molase tidak perlu lagi dan tidak perlu menggunakan fungi tambahan.

“Kami tahu bahwa fungi Trichoderma reesei pada prinsipnya mampu menghasilkan erythritol, tetapi biasanya hanya dalam jumlah kecil,” kata Robert Mach. “Dengan memodifikasi secara genetik, kami berhasil merangsang peningkatan produksi enzim, yang memungkinkan produksi pemanis pada skala besar.”

Tingkat kemanisan Erythritol adalah sekitar 70 sampai 80 persen dari gula. Saat ini, 23000 ton erythritol diproduksi setiap tahun. Jumlah ini bisa meningkat jauh jika tren untuk beralih ke erythritol menyebar dari Asia ke Eropa dan Amerika Serikat. Astrid Mach-Aigner dan Robert Mach dari Vienna University of Technology telah mematenkan proses produksi baru ini, bersama-sama dengan perusahaan ANNIKKI. “Kami telah membuktikan bahwa metode produksi baru ini telah bekerja dengan baik,” kata Robert Mach. “Sekarang kita ingin meningkatkan efisiennya bersama-sama dengan mitra industri kami sehingga dapat digunakan untuk produksi skala besar.” Tambahnya, seperti dilansir Vienna University of Technology, TU Vienna (24/6/2014).

Referensi Jurnal :

Birgit Jovanović, Robert L Mach, Astrid R Mach-Aigner. Erythritol production on wheat straw using Trichoderma reesei. AMB Express, 2014; 4 (1): 34 DOI: 10.1186/s13568-014-0034-y.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here