Bhataramedia.com – Dua vaksin DNA eksperimental untuk mencegah virus Ebola dan virus Marburg telah terbukti aman. Dua vaksin tersebut menghasilkan respon imun yang sama pada orang dewasa yang sehat di Uganda, sama seperti yang dilaporkan pada orang dewasa yang sehata di AS awal tahun ini. Temuan tersebut diterbitkan di The Lancet.

“Penelitian ini merupakan yang pertama kali menunjukkan keamanan dan respon imun dari vaksin Ebola eksperimental pada populasi di Afrika,” kata penulis utama, Dr. Julie Ledgerwood dari National Institutes of Allergy and Infectious Diseases (NIAID) di National Institutes of Health, USA .

“Hal ini sangat menggembirakan karena mereka yang berisiko paling besar terjangkit Ebola terutama hidup di Afrika. Mengingat menurunnya perlindungan dari vaksin pada populasi  di Afrika telah terlihat untuk jenis penyakit lainnya,” lanjut Dr. Ledgerwood, seperti dilansir The Lancet (23/12/2014).

Para ilmuwan dari NIAID mengembangkan vaksin DNA yang dikodekan untuk protein virus Ebola dari strain Zaire dan Sudan, serta protein virus Marburg. Vaksin tersebut mengandung susunan protein pada permukaan luar dari virus. Respon imun terhadap protein ini telah terbukti sangat protektif di dalam model primata non-manusia.

Di dalam uji fase 1 yang dilakukan, para peneliti melibatkan 108 orang dewasa sehat berusia antara 18 dan 50 tahun dari Kampala, Uganda, antara November 2009 hingga April 2010. Setiap relawan secara acak ditugaskan untuk menerima suntikan intramuskular vaksin Ebola (30 relawan), vaksin Marburg (30), kedua vaksin (30), atau plasebo (18) pada awal penelitian, dan setelah 4 minggu dan 8 minggu kemudian.

Vaksin yang diberikan secara terpisah dan bersama-sama, terbukti aman dan merangsang respon imun di dalam bentuk antibodi penetral dan sel T terhadap protein virus. Empat minggu setelah suntikan ketiga, lebih dari setengah relawan (57%; 17 dari 30) memiliki respon antibodi terhadap protein Ebola Zaire. Hal ini juga dialami 14 dari 30 peserta yang menerima vaksin Ebola dan Marburg secara bersamaan. Namun, antibodi yang terbentuk tidak tahan lama dan kembali ke tingkat yang tidak terdeteksi di dalam waktu 11 bulan setelah vaksinasi.

Kedua vaksin DNA tersebut  ditoleransi dengan baik pada orang dewasa di Uganda. Hanya satu efek samping yang serius (neutropenia, jumlah sel darah putih yang rendah) dilaporkan pada penerima vaksin Marburg, tetapi hal ini tidak dianggap terkait dengan vaksin tersebut.

“Temuan ini telah membentuk dasar bagi vaksin lebih kuat, yang disampaikan dengan menggunakan virus flu simpanse yang tidak berbahaya. Vaksin ini sedang menjalani uji coba di Amerika Serikat, Inggris, Mali dan Uganda, sebagai upaya untuk menanggapi wabah virus Ebola yang sedang berlangsung,” kata Dr. Ledgerwood.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here