Bhataramedia.com – Studi terbaru yang dipimpin oleh Anna-Liisa Laine dari University of Helsinki menyatakan bahwa jarak antara padang rumput satu dengan lainnya mempengaruhi tingkat ketahanan tanaman di padang rumput liar terhadap penyakit. Semakin dekat jaraknya maka akan semakin tinggi tingkat resistensi (ketahanan) terhadap penyakit, begitu pula sebaliknya, atau dengan kata lain, fragmentasi habitat (habitat yang terpecah-pecah, apalagi jaraknya semakin lebar) akan menurunkan tingkat resistensi tanaman terhadap penyakit.

Infeksi fungi patogen Podosphaera plantaginis pada daun Plantago lanceolata. (Credit: Photo Sussanna Kekkonen)
Infeksi fungi patogen Podosphaera plantaginis pada daun Plantago lanceolata. (Credit: Photo Sussanna Kekkonen)

Hasil penelitian ini menganalisis dinamika epidemiologi dari fungi patogen di kepulauan Finlandia. Studi ini diterbitkan di jurnal Science pada 13 Juni 2014.

Studi ini mensurvei lebih dari 4.000 tumbuhan Plantago lanceolata di padang rumput dan status infeksi yang disebabkan oleh jamur tepung di Kepulauan Åland, Finlandia. Survei ini dilakukan terus-menerus sejak tahun 2001, sehingga menciptakan salah satu database terbesar di dunia terkait dinamika penyakit pada populasi tanaman liar.

“Hasil studi ini berlawanan dengan hukum ekologi. Di lanskap yang mendukung koneksi (hubungan) antar padang rumput, status infeksinya ternyata sangat rendah. Hal ini menunjukkan bahwa ketahanan terhadap penyakit telah meningkat di daerah-daerah di mana aliran gen antar populasi tanaman terjadi dengan frekuensi lebih banyak. Hipotesis ini dikonfirmasi melalui studi laboratorium, dimana terjadi kerentanan infeksi yang lebih tinggi pada tanaman yang berasal dari padang rumput yang terisolir. Hasil studi ini menjadi bukti kuat bahwa meskipun tanaman dapat berdiri kokoh, ternyata gen-nya tidak demikian. Struktur lanskap berdampak kuat terhadap bagaimana penyebaran serbuk sari dan benih (biji) membentuk keragaman genetik komunitas tanaman lokal, ” kata Laine, seperti dilansir Academy of Finland (12/6/2014).

“Di alam, penyakit menjadi dilema ketika populasi host (inang) sedikit dan atau terfragmentasi. Ketika populasi tanaman melimpah, tanaman mampu berevolusi dengan mengembangkan tingkat ketahanan terhadap penyakit yang lebih baik.” Tambah Laine.

Keberadaan patogen dan hama bukanlah sesuatu yang asing di lingkungan pertanian, begitu pula dengan populasi tumbuhan liar yang juga menjadi host bagi komunitas patogen yang beragam. Namun, epidemi dahsyat yang merupakan ciri khas dari patogen pertanian jarang didokumentasikan di alam liar.

Menurut Laine, mekanisme yang menjaga penyakit tetap terkontrol di alam liar kurang begitu dipahami oleh para peneliti. Sebagian besar penelitian epidemiologi menargetkan fase penyebaran penyakit yang berlangsung cepat. Namun, kita dapat mempelajari mekanisme tersebut melalui studi terhadap mekanisme yang memungkinkan persistensi jangka panjang infeksi pada tingkat moderat. Padang rumput Plantago sangat ideal untuk tujuan ini karena biasanya tingkat infeksinya kurang dari 10 persen.

Referensi Jurnal :

J. Jousimo, A. J. M. Tack, O. Ovaskainen, T. Mononen, H. Susi, C. Tollenaere, A.-L. Laine. Ecological and evolutionary effects of fragmentation on infectious disease dynamics. Science, 2014; 344 (6189): 1289 DOI: 10.1126/science.1253621.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here