Bhataramedia.com – Para orang tua sering menganjurkan anaknya untuk menghabiskan semua brokoli di piringnya pada saat makan malam. Lalu, apa sebenarnya manfaat brokoli? Penelitian terbaru dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health di Baltimore, MD, menunjukkan manfaat baru dari sayuran hijau ini.

Peserta penelitian pada studi ini berasal dari salah satu daerah yang paling tercemar di China. Mereka yang mengonsumsi setengah cangkir minuman dari tunas brokoli dapat mengeluarkan sejumlah besar benzena dan akrolein dari tubuh. Kedua senyawa ini merupakan karsinogen pada manusia dan menyebabkan iritasi paru-paru.

Para peneliti Johns Hopkins mencatat bahwa diet kaya sayuran, seperti brokoli, sebelumnya telah diketahui dapat mengurangi risiko beberapa penyakit kronis, termasuk kanker.

Khusus brokoli, tanaman ini adalah sumber glucoraphanin, yaitu senyawa yang menghasilkan sulforaphane ketika sayuran ini dikunyah atau minuman tersebut ditelan bersama air ludah.

Para peneliti menjelaskan bahwa sulforaphane dapat meningkatkan aktivitas enzim yang berfungsi meningkatkan kemampuan tubuh untuk menyingkirkan (membuang) polutan dalam tubuh. Hal inilah sebabnya mengapa peserta penelitian menunjukkan tingkat signifikan tinggi dalam mengekskresikan benzena dan akrolein.

Masalah kompleks dari polusi udara

Menurut Agency for Toxic Substances & Disease Registry, cabang dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), peningkatan polusi udara telah dikaitkan dengan penurunan fungsi paru-paru dan peningkatan serangan jantung. Kualitas udara yang buruk juga dapat mempengaruhi orang-orang pengidap asma dan jenis lain dari penyakit paru-paru atau jantung.

Pada bulan Maret tahun ini, Medical News Today melaporkan studi dari Organisasi Kesehatan Dunia, yang menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 8 kematian global atau 7 juta kematian setiap tahunnya adalah hasil dari paparan polusi udara .

“Dan tahun lalu, International Agency for Research on Cancer telah mengklasifikasi polusi udara dan partikel yang bersifat karsinogenik pada manusia, kata para peneliti.

Di China, polusi udara telah mencapai tingkat berbahaya.

Seperti dilansir Medical News Today (17/6/2014), Prof. John Groopman, peneliti dari Johns Hopkins, mengatakan:

“Polusi udara merupakan masalah kesehatan masyarakat yang kompleks dan luas. Untuk mengatasi masalah ini secara komprehensif, selain adanya solusi rekayasa untuk mengurangi emisi polusi regional, kita perlu menerjemahkan ilmu dasar kami ke dalam strategi untuk melindungi individu dari paparan polusi tersebut.”

Dia menambahkan bahwa penelitian mereka “mendukung pengembangan strategi berbasis pangan sebagai bagian dari upaya pencegahan ini secara keseluruhan.”

Brokoli : cara hemat, sederhana dan aman untuk meminimalkan efek polusi.

Selama 12 minggu, tim peneliti mempelajari 291 peserta yang tinggal di sebuah komunitas pertanian pedesaan di Provinsi Jiangsu, Cina. Wilayah ini berada pada jarak sekitar 50 km sebelah utara dari Shanghai, daerah industri berat di negara ini.

Secara total, ada 62 pria dan 229 wanita, usianya berkisar 21-65 tahun. Sampel urin dan darah mereka diambil selama pengematan untuk menilai pengukuran polusi udara terhirup.

Peserta penelitian dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok kontrol (pertama) mendapatkan perlakuan berupa minum minuman yang terdiri dari air steril, nanas dan air jeruk nipis. Kelompok kedua mendapatkan perlakuan berupa minum minuman yang sama, namun juga mengandung bubuk beku-kering terlarut yang terbuat dari tunas brokoli. Seperti kita ketahui, tunas ini mengandung senyawa glucoraphanin dan sulforaphane.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta pada kelompok kedua menunjukkan peningkatan laju ekskresi benzena karsinogen sebanyak 61% pada hari pertama dibandingkan kelompok kontrol, dan hal ini berlanjut selama 12 minggu berikutnya. Selain itu, tingkat ekskresi akrolein iritan (senyawa penyebab iritasi) juga meningkat sebesar 23%, dibandingkan dengan kelompok kontrol (placebo) selama penelitian.

Setelah melakukan analisis sekunder, tim peneliti mengatakan bahwa sulforaphane dapat mengaktifkan molekul pensinyal yang disebut NRF2, dimana molekul ini dapat meningkatkan kemampuan sel untuk beradaptasi dan bertahan hidup dari berbagai racun lingkungan.

Tim peneliti juga menambahkan bahwa strategi ini juga dapat digunakan untuk kontaminan di dalam air dan makanan.

Prof Thomas Kensler, peneliti dari Johns Hopkins, mengatakan:

“Poin penting studi ini untuk mencari sarana yang hemat, sederhana dan aman yang dapat diambil oleh individu untuk mengurangi beberapa risiko kesehatan jangka panjang terkait dengan polusi udara. Pemerintah dan pembuat kebijakan diharapkan juga segera menentukan dan melaksanakan kebijakan peraturan yang lebih efektif untuk meningkatkan kualitas udara. “

Para peneliti berencana melakukan uji klinis lebih lanjut di daerah yang sama di China untuk menilai dosis dan frekuensi minuman kol brokoli yang terbaik.

Referensi Jurnal :

P. A. Egner, J. G. Chen, A. T. Zarth, D. Ng, J. Wang, K. H. Kensler, L. P. Jacobson, A. Munoz, J. L. Johnson, J. D. Groopman, J. W. Fahey, P. Talalay, J. Zhu, T.-Y. Chen, G.-S. Qian, S. G. Carmella, S. S. Hecht, T. W. Kensler. Rapid and Sustainable Detoxication of Airborne Pollutants by Broccoli Sprout Beverage: Results of a Randomized Clinical Trial in China. Cancer Prevention Research, 2014; DOI: 10.1158/1940-6207.CAPR-14-0103.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here