Bhataramedia.com – Menurut penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature Climate Change, energi surya terkonsentrasi / concentrating solar power (CSP) dapat memasok sejumlah besar permintaan energi saat ini. Di wilayah Mediterania, misalnya, penelitian menunjukkan bahwa sistem CSP dapat memberikan 70-80% dari kebutuhan listrik saat ini tanpa biaya tambahan, dibandingkan dengan pembangkit listrik berbahan bakar gas. Persentase tersebut mirip dengan energi listrik yang disediakan oleh pembangkit energi standar, seperti pembangkit nuklir.

“Sistem energi surya dapat memenuhi “rasa lapar” kita terhadap kebutuhan listrik, dengan biaya yang rasional,” kata Stefan Pfenninger, pemimpin penelitian ini saat bekerja di IIASA. Dia sekarang menjadi Postgraduate Research di Grantham Institute di Imperial College London.

Penelitian ini adalah yang pertama kali menguji potensi CSP sebagai sistem produksi energi skala besar, di empat wilayah di seluruh dunia. “Di dalam rangka untuk mengatasi perubahan iklim, kita perlu untuk memperluas penggunaan sistem energi terbarukan,” kata peneliti IIASA Fabian Wagner, yang juga bekerja pada studi ini.

“Pertanyaan kuncinya adalah seberapa banyak energi yang dapat disediakan dari sistem energi terbarukan?,” ungkap dia, seperti dilansir International Institute for Applied Systems Analysis (22/6/2104).

Salah satu masalah penerapan energi matahari di dalam skala besar adalah matahari tidak bersinar sepanjang waktu. Hal ini berarti bahwa energi harus disimpan di dalam beberapa cara. Bagi sistem sel photovoltaic (PV) yang mengubah sinar matahari langsung menjadi listrik, hal tersebut tentunya sangat sulit untuk diatasi karena listrik sulit untuk disimpan.

Tidak seperti sel fotovoltaik (PV), CSP menggunakan energi matahari untuk memanaskan cairan yang mendorong turbin. Hal ini berarti bahwa energi yang dikumpulkan dapat disimpan sebagai panas dan diubah menjadi listrik hanya bila diperlukan. Namun, bahkan dengan CSP, jika matahari tidak bersinar untuk jangka waktu yang lama, sistem tersebut kemungkinan tidak dapat mendukung kebutuhan energi skala besar.

Salah satu cara untuk memecahkan tersebut adalah dengan membangun jaringan CSP besar yang saling terhubung. Sampai sekarang, belum ada yang mempelajari rincian dan kelayakan rencana tersebut. Di dalam studi baru ini, para peneliti mensimulasi pembangunan dan pengoperasian sistem CSP di empat wilayah di seluruh dunia, dengan mempertimbangkan variasi cuaca, lokasi pabrik, kebutuhan listrik dan biaya.

“Penelitian kami adalah yang pertama kalinya melihat secara dekat apakah ada kemungkinan untuk membangun sistem listrik berbasi energi surya dan dapat menyediakan listrik yang dapat diandalkan bagi konsumen sepanjang waktu, setiap hari dan sepanjang tahun. Kami menemukan bahwa simulasi tersebut kemungkinan dapat dilakukan pada dua dunia daerah, cekungan Mediterania dan Gurun Kalahari Afrika Selatan,” kata rekan penulis studi ini, Anthony Patt, seorang profesor human-environment Systems, ETH Zurich Department of Environmental Systems Science.

Referensi Jurnal :

Stefan Pfenninger, Paul Gauché, Johan Lilliestam, Kerstin Damerau, Fabian Wagner, Anthony Patt. Potential for concentrating solar power to provide baseload and dispatchable power. Nature Climate Change, 2014; DOI: 10.1038/nclimate2276.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here