Bhataramedia.com – Penderita kanker paru-paru bukan sel kecil (NSCLC) yang tidak pernah merokok atau yang mantan perokok pada saat diagnosis, memiliki risiko lebih rendah untuk menderita kanker paru-paru primer sekunder (SPLC) dibandingkan dengan mereka yang perokok pada saat studi. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan paparan tembakau terkait dengan risiko yang lebih tinggi dari SPLC.

Temuan ini berdasarkan penelitian yang dipresentasikan 16 September 2014 di Rapat Tahunan American Society for Radiation Oncology’s (ASTRO’s) ke-56.
Analisis studi ini mempelajari hubungan antara sejarah merokok pasien dan risiko mereka untuk terserang SPLC, yang didefinisikan sebagai kanker paru-paru baru yang tidak terkait

dengan tumor awal berdasarkan histologi dan lokasi di paru-paru.

Studi ini mengkaji 1.484 pasien (372 perokok saat studi, 1.014 mantan perokok dan 98 tidak pernah perokok) yang menjalani operasi, dengan atau tanpa kemoterapi adjuvan atau terapi radiasi, untuk NSCLC stadium I-IIIA di Duke University Medical Center antara tahun 1995 dan 2008.

Sebagai data awal, hasil kovariat dan onkologi kovariat termasuk kontrol lokal (LC), pengembangan metastasis jauh (DM), kelangsungan hidup secara keseluruhan (OS) dan tingkat SPLC dinilai. SPLC dibedakan dari metastasis berdasarkan evaluasi histologis dilengkapi dengan presentasi klinis, termasuk lokasi anatomik dan onset kronologis diagnosis. Hazard ratio (HR) dihitung dengan interval kepercayaan 95 persen, dan analisis multivariat (MVA) dilakukan dengan menggunakan model regresi Cox.

Studi ini menemukan bahwa lima tahun setelah diagnosis awal, para perokok saat studi adalah lebih mungkin untuk mengembangkan SPLC. Selama 5 tahun tersebut, kasus SPLC adalah 13 persen untuk perokok saat studi, 7 persen untuk mantan perokok, dan 0 persen untuk pasien yang tidak pernah merokok. Pada periode follow-up, hanya satu pasien yang tidak pernah merokok namun mengembangkan SPLC, yaitu tujuh tahun setelah operasi untuk kanker pertama. Selanjutnya, ketika studi membatasi analisisnya hanya untuk para perokok dengan paket tahunan (PY) sebagai variabel kontinu, risiko SPLC meningkat dengan jumlah tahun paparan tembakau, yaitu 8 persen peningkatan risiko per 10 PY.

Untuk semua pasien, tidak ada perbedaan di LC atau DM berdasarkan status merokok. Ketika membandingkan pasien yang perokok saat studi untuk mereka yang tidak pernah merokok atau sudah berhenti merokok lebih dari lima tahun sebelum operasi, OS secara signifikan lebih buruk bagi perokok.

“Sebagai terobosan baru pada penelitian ini, yang merupakan salah satu yang terbesar dari jenisnya penelitian terkait ini, kami sangat tertarik pada bagaimana riwayat merokok berhubungan dengan risiko mengembangkan kanker paru-paru sekunder,” kata John Michael Boyle, MD, penulis utama studi dan ahli radiasi onkologi di Duke Cancer Institute di Durham, NC, seperti dilansir laman American Society for Radiation Oncology (16/9/2014).

“Sementara kami percaya mereka yang tidak pernah merokok akan memiliki risiko lebih rendah untuk mengembangkan kanker paru-paru sekunder, seperti telah dikonfirmasi sebelumnya, kami didorong untuk menemukan bahwa berhenti merokok menyebabkan risiko yang lebih rendah untuk mengembangkan kanker paru-paru sekunder dan tingkat kelangsungan hidupnya secara keseluruhan hampir sama dengan yang bukan perokok. Temuan ini mengkonfirmasi bahwa berhenti merokok sangat penting dan harus menjadi komponen integral dari perawatan pasien untuk pasien tanpa diagnosis kanker sebelumnya serta untuk penderita kanker. ” Pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here