Bhataramedia.com – Masalah mengenai perasaan sebenarnya dapat mempengaruhi kesehatan jantung dengan cara-cara yang sebelumnya tidak dipahami.

“Bukti-bukti telah menunjukkan bahwa kualitas dan pola hubungan sosial seseorang dapat dihubungkan dengan berbagai hasil kesehatan, termasuk penyakit jantung,” kata Thomas Kamarck, profesor psikologi dan Biologi dan Health Program Chair di University of Pittsburgh Kenneth P. Dietrich School of Arts and Sciences. Dia adalah seorang penulis dari sebuah studi baru yang menghubungkan antara interaksi pernikahan yang tidak bahagia dengan penebalan arteri karotis dan risiko tinggi penyakit kardiovaskular.

“Kontribusi dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan bahwa jenis hubungan tersebut dapat diamati bahkan selama tahap-tahap awal perkembangan plak pada arteri karotid. Selain itu, studi ini kemungkinan bukan hanya menunjukkan di dalam cara kita mengevaluasi hubungan secara umum, namun lebih ke dalam kualitas interaksi sosial tertentu dengan pasangan hidup yang menemani kehidupan kita sehari-hari,” Kamarck melanjutkan.

Nataria Joseph adalah penulis utama dari naskah ilmiah yang diterbitkan bulan ini di jurnal Psychosomatic Medicine. Dia baru saja menyelesaikan program postdoktoralnya di bawah bimbingan Kamarck. Para peneliti menunjukkan bahwa pasangan dengan interaksi pernikahan yang negatif kemungkinan memiliki resiko 8,5 persen lebih besar untuk menderita serangan jantung atau stroke dibandingkan pasangan yang memiliki interaksi positif.

“Temuan ini kemungkinan memiliki implikasi yang lebih luas. Hasil dari penelitian ini mendukung dugaan bahwa hubungan pernikahan memainkan peran penting di dalam kesehatan secara keseluruhan. Proses biologis, psikologis dan sosial semuanya berinteraksi untuk menentukan kesehatan fisik,” kata Nataria, seperti dilansir University of Pittsburgh (25/6/2014).

Penelitian ini melibatkan 281 orang dewasa sehat setengah baya yang telah bekerja dan menikah atau hidup dengan pasangan di dalam hubungan seperti pernikahan. Interaksi mereka dimonitor per jam selama empat hari dan pasangan mereka diminta menilai interaksi tersebut sebagai interaksi yang positif atau negatif. Selain itu juga dilakukan pengukuran terhadap ketebalan arteri karotid.

Pasangan yang melaporkan interaksi negatif ditemukan memiliki arteri karotid yang lebih tebal. Joseph mengatakan bahwa asosiasi ini tidak dapat disamakan dengan faktor risiko perilaku atau biologis lainnya. Selain itu, asosiasi tersebut juga bersifat independen dari frekuensi interaksi pernikahan, interaksi sosial di luar pernikahan dan faktor kepribadian. Temuan mengenai hubungan tersebut konsisten di seluruh usia, jenis kelamin, ras dan tingkat pendidikan.

Joseph mengatakan bahwa penelitian ini memiliki keterbatasan karena merupakan studi cross-sectional, dimana semua data dikumpulkan pada satu titik waktu. Hubungan sebab akibat belum dapat terbukti, meskipun korelasi yang kuat telah dibentuk.

“Penelitian ini telah memberikan pandangan bagi penyedia layanan kesehatan untuk melihat hubungan pernikahan sebagai titik penilaian. Hubungan tersebut dapat cenderung untuk meningkatkan kesehatan atau justru memperburuk kesehatan,” pungkas Nataria.

Referensi Jurnal :

Nataria Tennille Joseph, Thomas W. Kamarck, Matthew F. Muldoon, Stephen B. Manuck. Daily Marital Interaction Quality and Carotid Artery Intima-Medial Thickness in Healthy Middle-Aged Adults. Psychosomatic Medicine, 2014; 76 (5): 347 DOI: 10.1097/PSY.0000000000000071.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here