Beranda Science Waspadai Gejala Psikopat Sejak Anak-anak

Waspadai Gejala Psikopat Sejak Anak-anak

1969
Anak-anak
Anak-anak. (Credit: foto knibonline, Flickr)

Bhataramedia.com – Bagi para orangtua, wajib bagi Anda untuk mencermati perilaku anak sejak usia dini. Perilaku anak-anak bisa jadi akan terbawa hingga dewasa. Jika anak kerap meminta sesuatu dengan bermanis-manis namun berubah kasar ketika keinginannya tidak tercapai, Anda patut waspada. Itu adalah gejala yang dapat mengarah ke psikopat.

Dalam bahasa psikologi, psikopat dikenal juga dengan istilah gangguan kepribadian dissosial (GKDS). Pengidap GKDS biasanya sangat egosentris, tidak menghiraukan perasaan orang lain, kejam, dan emosinya amat dangkal. Mereka tidak peduli dengan aturan atau hukum, sangat kaku, dan cenderung selalu menyalahkan. Orang dengan gangguan kepribadian ini tidak pernah bisa berhubungan dengan orang lain, sekalipun sebatas teman.

Menurut Dinastuti, Kepala Bagian Psikologi Klinis Fakultas Psikologi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta, gejala GKDS bisa muncul sebelum anak berumur lima tahun. Gejala yang dimaksud antara lain gemar berbohong, memanipulasi orang lain, dan tidak pernah tulus meminta maaf. Juga, selalu melanggar hak orang lain, melakukan hal yang membahayakan diri sendiri, dan bertindak impulsif (hanya karena dorongan hati, tanpa ada maksud tertentu dan tanpa dipikir akibatnya). Perilaku paling mudah dilihat pada anak bergejala GKDS adalah suka merusak dan membakar barang, menyiksa binatang, atau melukai temannya tanpa rasa bersalah.

Sekalipun gejalanya terlihat sejak dini, mendiagnosis penderita GKDS tidak bisa sembarangan. Diagnosis baru bisa dilakukan ketika seseorang berumur 18 tahun. Pada usia ini, orang dengan gejala psikopat mulai terlihat sangat menarik ketika berbicara, manis tutur katanya, dan memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Sebuah penelitian menyebutkan 1 diantara 100 orang berpotensi menjadi psikopat.

Belum ditemukan penyebab pasti munculnya GKDS pada seseorang. Menurut Diastuti, penyebabnya bisa jadi faktor genetik, pola asuh yang salah, lingkungan penuh kekerasan, bahkan kerusakan otak. Pendapat ini dikuatkan oleh Joshua W Buckholtz dalam bukunya Inside the Mind of a Psychopath di Scientific American Mind.Buckholtz menyebutkan ada perbedaan antara otak psikopat dengan orang normal dalam memproses informasi, sehingga mempengaruhi tingkat emosi.

Pengidap psikopat tidak bisa diterapi secara sempurna. Terapi hanya difungsikan agar penderita tidak bertambah parah dan tidak berubah menjadi kriminal. Psikopat tidak pernah merasa ada yang salah pada dirinya, juga memiliki kata-kata yang sangat manis sehingga psikiater profesional pun bisa dimanipulasi olehnya. Menurut dr Widodo Judarwanto SpA dari Children Allergy clinic dan Picky Eaters Clinic Jakarta, yang memungkinkan untuk dilakukan oleh masyarakat adalah menjauhi secara fisik penderita psikopat (karena ini juga yang diinginkan mereka), mengusahakan terapi, dan menjaga jangan sampai timbul korban.

Ketika muncul gejala GKDS atau psikopat sejak anak-anak, orangtua perlu meningkatkan keharmonisan dan kekuatan keluarga baik fisik maupun mental. Keluarga dan lingkungan masa kecil yang berantakan disinyalir merupakan pemicu utama kekejaman di masa dewasa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here