Bhataramedia.com – Studi baru menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik pada masa awal kehidupan dapat menyebabkan perubahan permanen di dalam usus, meningkatkan risiko terkena diabetes dan obesitas.

Penelitian ini dipimpin oleh Laura M. Cox, dari Medical Center Langone NYU di New York. Penelitian terbaru ini menunjukkan bahwa antibiotik dapat mengubah keseimbangan alami yang baik dan bakteri di dalam sistem pencernaan dengan cara yang kemungkinan membuat beberapa orang lebih rentan terhadap penyakit.

Temuan yang dipublikasikan di jurnal Cell ini, merupakan tindak lanjut dari penelitian tahun lalu yang melaporkan bahwa penggunaan antibiotik di dalam tahun pertama kehidupan meningkatkan risiko eksim sebesar 40 persen. Selain itu, bayi yang diberi antibiotik jauh lebih mungkin untuk mengembangkan asma di kemudian hari.

Di dalam studi terbaru ini, Cox dan rekan-rekannya menemukan bahwa tikus yang diberi antibiotik pada awal kehidupan mengalami perubahan bakteri usus yang memprogram metabolisme tikus dan membuat tikus lebih rentan terhadap kenaikan berat badan.

“Hal ini menunjukkan bahwa tikus lebih rentan secara metabolik jika mendapatkan antibiotik di masa awal kehidupan,” kata Cox, seperti dilansir Newsmax Health (15/8/2014).

“Ketika kami memberikan tikus dengan diet tinggi kalori, tikus-tikus tersebut mendapatkan lemak. Ketika kami memberikan tikus antibiotik, tikus-tikus tersebut mendapatkan lemak. Tetapi ketika kamiĀ  memberikan tikus-tikus tersebut dengan antibiotik dan diet tinggi lemak, tikus-tikus tersebut menjadi sangat-sangat gemuk,” jelas peneliti. Martin Blaser, M.D., profesor mikrobiologi di NYU Langone Medical Center.

Selain tambahan berat badan, tikus juga memiliki tingkat insulin yang tinggi dan perubahan gen yang terkait dengan regenerasi hati dan detoksifikasi. Para peneliti mengatakan bahwa efek ini biasanya ditemukan pada pasien obesitas dengan gangguan metabolik, seperti diabetes.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here