Bhataramedia.com – Jika selama ini bagian dari pisang yang dikonsumsi hanya buahnya, maka tiga mahasiswa Universitas Brawijaya ini mengajak kita untuk menikmati olahan kulit pisang. Tidak tanggung-tanggung, ekstrak kulit pisang yang sudah diolah menjadi marshmallow (permen kenyal) ini disebut-sebut mampu mengobati kolesterol dan jantung koroner.

Adalah Lukman Azis (21), Nisa Alfilasari (20) dan Clara Arha (20), mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, yang mengembangkan riset pengolahan kulit pisang menjadi obat. Menurut Lukman, ketua penelitian, terdapat zat pektin yang terkandung dalam kulit pisang sehingga bisa dijadikan obat kolesterol dan jantung koroner.

Pektin sendiri adalah zat yang diperoleh dari dinding sel tumbuhan darat. Selama ini, pektin banyak dimanfaatkan oleh industri pangan sebagai bahan perekat atau pengental karena sifatnya yang lengket. Pada pisang, pektin dapat ditemukan pada dinding kulit bagian dalam berupa lapisan yang licin dan dapat dikerok jika masih basah.

Penelitian ini diikutsertakan dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian (PKM-P) yang diselenggarakan oleh Ditjen Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kemendikbud. Alasan mahasiswa-mahasiswa ini memilih kulit pisang adalah kenyataan bahwa selama ini kulit pisang selalu terbuang percuma, padahal sebagai mahasiswa teknologi pertanian, mereka tahu bahwa kulit pisang mengandung senyawa yang dapat dimanfaatkan lebih lanjut.

Riset yang memakan biaya Rp 11 juta ini dimulai sejak Februari 2014. Sejak awal, bahan-bahan yang digunakan untuk penelitian ini merupakan bahan alami, tanpa campuran bahan kimia. Untuk menjadikan kulit pisang sebagai olahan yang bisa dikonsumsi, ekstrak kulit pisang dijadikan tepung dan dicampur senyawa asam dari jeruk, kemudian dibentuk menjadi permen kenyal yang disebut marshmallow.

Setelah dijadikan marshmallow, mahasiswa-mahasiswa ini melakukan uji coba pada tikus yang sudah dibuat berkolesterol tinggi sehingga menderita jantung koroner. Saat diujikan, ternyata ekstrak pisang ini mampu menurunkan tingkat kolesterol tikus. Hingga saat ini, tim peneliti masih berusaha mengkonversi dosis pada tikus menjadi dosis untuk manusia.

Tiap 3,5 kg kulit pisang mampu menghasilkan 500 gram tepung pisang. Sementara, tiap 25 gram tepung pisang bisa menghasilkan 3-4 gram pektin. Dengan demikian, dari 3,5 kg saja dapat diperoleh 60-80 gram ekstrak pektin. Pektin biasa yang ada di pasaran dapat mencapai angka Rp 1 juta per gram. Sementara pektin dari kulit pisang hanya berkisar Rp 12 ribu per gram.

Saat ini, tim peneliti bersama Lembaga Penelitian Unibraw sedang mengurus hak paten untuk temuan ini. Tidak menutup kemungkinan, riset ini akan dikembangkan pada penyakit lain seperti diabetes tipe 2 dan obesitas, untuk kemudian diproduksi massal berupa permen kenyal berpektin.

Sekedar informasi, Indonesia adalah negara penghasil pisang nomor tujuh di dunia, namun produktivitasnya menempati urutan pertama. Pisang mulai diekspor ke luar negeri pada Desember 2013 dan yang budidayanya dikembangkan oleh PT Perkebunan Nusantara VIII.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here