Bhataramedia.com – Tim peneliti yang dipimpin NOAA telah menemukan bahwa peningkatan keasaman air laut telah melarutkan cangkang siput laut kecil dari Pantai Barat Amerika. Hasil penelitian tersebut dipublikasikan di Proceedings of the Royal Society B.

Para peneliti memperkirakan bahwa persentase Pteropod yang terpengaruh peningkatan keasaman air laut telah meningkat dua kali lipat sejak era pra-industri, dan diperkirakan akan menjadi tiga kali lipat pada tahun 2050.

Menurut prediksi tim peneliti dari International Geosphere-Biosphere Program, proses pengasaman lautan bumiĀ akan naik sebanyak 170 persen pada akhir abad ini.

Pengasaman laut terjadi ketika air laut menjadi korosif dengan menyerap sepertiga karbon dioksida yang dihasilkan oleh aktivitas manusia dari atmosfer. Selama musim upwelling, angin membawa air laut yang kaya karbon dioksida naik dari kedalaman sekitar 400-600 meter ke permukaan dan landas kontinen. Para ilmuwan sangat dikejutkan oleh temuan ini.

“Selama beberapa dekade, kami tidak berharap untuk melihat Pteropod di pantai barat Amerika terpengaruh hingga seperti ini,” kata William Peterson, oseanografer dari NOAA’s Northwest Fisheries Science Center dan rekan penulis di dalam penelitian ini.

Perubahan kimiawi air laut jelas mempengaruhi kehidupan laut, terutama organisme dengan kalsium karbonat atau kerangka seperti karang, tiram, kerang dan makhluk kecil seperti Pteropod yang berada di bagian bawah rantai makanan.

Pteropod atau siput laut menyediakan makanan bagi ikan salmon, makarel dan herring. Siput ini dapat ditemukan di berbagai lautan di seluruh dunia. Tidak hanya makhluk kecil yang terancam, temuan ini secara tidak langsung juga menunjukkan konsekuensi yang lebih serius.

“Pengasaman laut dapat mempengaruhi ekosistem laut dengan cara yang mengancam keberlanjutan sumber daya laut kita,” kata Libby Jewett, direktur NOAA Ocean Acidification Program, seperti dilansir Nature World News (30/4/2014).

“Penelitian mengenai perkembangan dan dampak pengasaman laut sangat penting dilakukan untuk memahami konsekuensi dari pembakaran bahan bakar fosil,” ungkap Jewett.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here