Beranda Health Gangguan Mata Dipengaruhi Usia, Kesehatan dan Penggunaan Obat Antidepresan

Gangguan Mata Dipengaruhi Usia, Kesehatan dan Penggunaan Obat Antidepresan

1056
mata
Ilustrasi, gangguan mata.

Bhataramedia.com – Menurut penelitian dari University of Waterloo, gangguan penglihatan binokular meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Studi ini juga menemukan korelasi antara kondisi tersebut dengan kondisi kesehatan seseorang secara umum dan penggunaan obat antidepresan.

Sebanyak 27 persen orang dewasa di usia enam puluhan mengalami gangguan penglihatan binokular atau gangguan gerakan mata. Jumlah itu meningkat menjadi 38 persen bagi mereka yang berada di atas usia 80 tahun. Sekitar 20 persen dari populasi umum menderita gangguan penglihatan binokular. Gangguan penglihatan binokular mempengaruhi persepsi kedalaman penglihatan sehingga dapat meningkatkan risiko seseoran untuk jatuh.

Dr. Susan Leat, seorang profesor di School of Optometry and Vision Science di Waterloo dan pemimpin dari studi ini, melakukan pengamatan terhadap 500 pasien yang dipilih secara acak dengan usia di atas 60 tahun. Semua pasien tersebut sedang menjalani pengobatan di Rumah Sakit University of Waterloo.

“Tiga puluh sampai 40 persen dari pasien memiliki tingkat kejadian yang sangat tinggi untuk berbagai macam jenis gangguan,” kata Dr. Leat.

Studi ini merupakan yang pertama kalinya mengukur kehilangan penglihatan binokular akibat bertambahnya usia. Selain itu, studi ini juga menunjukkan hubungan gangguan tersebut dengan penggunaan obat antidepresan dan kesehatan pasien secara umum. Kondisi seperti diabetes dan penyakit tiroid telah diketahui merupakan penyebab dari gangguan penglihatan binokular. Akan tetapi, studi ini adalah studi pertama yang menghubungkan gangguan penglihatan binokular dengan keseluruhan kesehatan secara umum.

Penulis lain dari studi ini juga telah membahas kemungkinan hubungan antara obat antidepresan tertentu dan gangguan penglihatan binokular spesifik. Studi ini, untuk pertama kalinya benar-benar menunjukkan hubungan antara penggunaan obat antidepresan dan gangguan penglihatan binokular atau gangguan gerakan mata.

“Suatu asosiasi tidak dapat berdiri sendiri, asosiasi akan selalu berjalan berdampingan,” kata Dr. Leat. “Ada kemungkinan bahwa efek dari buruknya penglihatan dapat membuat seseorang lebih cenderung untuk menggunakan antidepresan dan memiliki sedikit pilihan untuk melakukan gaya hidup sehat,” lanjut Dr. Leat.

Meskipun studi ini telah menunjukkan bahwa tingkat gangguan penglihatan binokular meningkat pada orang dengan usia yang lebih tua. Banyak gangguan penglihatan binokular dapat diobati dengan menggunakan kacamata, terapi penglihatan, atau di dalam beberapa kasus menggunakan operasi.

“Dengan menjaga kacamata anda tetap “up-to-date” melalui pemeriksaan mata secara teratur merupakan salah satu cara untuk mempertahankan penglihatan yang baik, menurunkan risiko jatuh dan mempertahankan kualitas hidup yang baik seiring pertambahan usia,” jelas Dr. Leat, seperti dilansir laman University of Waterloo (1/5/2014).

Peneliti lainnya di bidang Optometri yang terlibat di dalam penelitian ini adalah Dr. Lisa Chan, Dr. Priya-Devi Maharaj, Dr. Patricia Hrynchak, Andrea Mittelstaedt, Dr. Carolyn Machan dan Dr. Elizabeth Irving. Penelitian ini diterbitkan di jurnal Investigative Ophthalmology and Vision Science.

Referensi Jurnal :

S. J. Leat, L. L.-L. Chan, P.-D. Maharaj, P. K. Hrynchak, A. Mittelstaedt, C. M. Machan, E. L. Irving. Binocular Vision and Eye Movement Disorders in Older Adults. Investigative Ophthalmology & Visual Science, 2013; 54 (5): 3798 DOI: 10.1167/iovs.12-11582.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here